Ana dan Kucing Putih
Hiduplah seorang anak bersama ayah dan ibunya. Mereka tinggal di rumah kecil dekat sawah. Anak itu bernama Ana. Dia suka memelihara kucing. Kucing itu berwarna putih. Witi. Itulah nama kucing kesayangannya.
Setiap hari Ana memberi makan Witi. Nasi dan ikan jadi lauknya. Dia juga tidak lupa memberi air untuk minum. Pada suatu hari, Witi keluar dari rumah. Seharian tidak pulang rumah. Ana menjadi sedih dan menangis.
Ana mencari Witi di dalam rumah dan di halaman rumah. Ternyata tidak ketemu. Ia berangkat sekolah dengan sedih. Di jalan ia bertemu kucing hitam. Kucing itu berteriak minta tolong pada Ana. “Meong… meong… Tolong temanku… Meong…” kata kucing itu. Kucing itu berlari. Ana mengikuti.
Mereka berhenti di taman. Ana melihat Witi menangis. “Meong… Ana… Meong… Ana…” kucing itu minta tolong. Ana berjalan mendekat. Dia langsung memeluk Witi. Dia mengelus-elus kepala Witi. Badan Witi luka dan berdarah.
“Kucing hitam, terima kasih ya”. Ana berkata pada kucing itu. Setelah itu berlari ke sekolah. Ana masih memeluk dan menggendong Witi. Mereka sampai di sekolah. Ana berjalan ke Ruang UKS. Dia mengambil kotak obat. Dia mengobati luka di badan Witi.
Ana memang anak yang baik hati. Dia suka menolong. Dia tidak membeda-bedakan. Dia mau menolong hewan yang terluka. Sikap Ana patut untuk ditiru.
Hiduplah seorang anak bersama ayah dan ibunya. Mereka tinggal di rumah kecil dekat sawah. Anak itu bernama Ana. Dia suka memelihara kucing. Kucing itu berwarna putih. Witi. Itulah nama kucing kesayangannya.
Setiap hari Ana memberi makan Witi. Nasi dan ikan jadi lauknya. Dia juga tidak lupa memberi air untuk minum. Pada suatu hari, Witi keluar dari rumah. Seharian tidak pulang rumah. Ana menjadi sedih dan menangis.
Ana mencari Witi di dalam rumah dan di halaman rumah. Ternyata tidak ketemu. Ia berangkat sekolah dengan sedih. Di jalan ia bertemu kucing hitam. Kucing itu berteriak minta tolong pada Ana. “Meong… meong… Tolong temanku… Meong…” kata kucing itu. Kucing itu berlari. Ana mengikuti.
Mereka berhenti di taman. Ana melihat Witi menangis. “Meong… Ana… Meong… Ana…” kucing itu minta tolong. Ana berjalan mendekat. Dia langsung memeluk Witi. Dia mengelus-elus kepala Witi. Badan Witi luka dan berdarah.
“Kucing hitam, terima kasih ya”. Ana berkata pada kucing itu. Setelah itu berlari ke sekolah. Ana masih memeluk dan menggendong Witi. Mereka sampai di sekolah. Ana berjalan ke Ruang UKS. Dia mengambil kotak obat. Dia mengobati luka di badan Witi.
Ana memang anak yang baik hati. Dia suka menolong. Dia tidak membeda-bedakan. Dia mau menolong hewan yang terluka. Sikap Ana patut untuk ditiru.

