Mengurangi Gadget, Bangkitkan Permainan Kekean
Oleh Silvia Dyah Puspita Sari
Dewasa ini, mayoritas anak-anak lebih memilih bermain dengan gadget (red.Indo:gawai). Ialah alat-alat yang memiliki tujuan dan fungsi praktis, alat yang rancangannya lebih canggih jika dibandingkan sebelumnya. Sesuatu yang dikemas serba lebih praktis tentunya. Entah itu berupa telepon seluler yang berupa handphone (HP) biasa, tablet, android, ataupun laptop/notbook/netbook.
Di dalam gadget banyak dijumpai berbagai permainan. Dengan memegang gadget, dunia serasa di tangan. Ada banyak jenis permainan, semuanya tinggal mengunduh saja. Memiliki gadget serasa suatu kebutuhan. Padahal, hal tersebut kurang bagus jika terlalu sering. Rasa solidaritas dan sosial dengan teman-temannya menjadi berkurang.
Beberapa hari ini, ada orangtua dari anak-anak yang mempunyai inisiatif untuk membangkitkan salah satu permainan tradisional. Kekean. Begitulah anak-anak Desa Dukuhseti menyebutkan nama permainan tersebut.
Kekean terbuat dari kayu yang dipahat. Bawahnya berbentuk kerucut, dan bagian atas dibuat agak kecil. Anak-anak yang memainkan kekean memerlukan tali atau rafia yang sudah dipelintir halus. Tali tersebut dilingkarkan pada bagian atas kekean.
Permainan tersebut dimainkan oleh 3 sampai 6 orang. Pada awal permainan, mereka bersama-sama mengucapkan, “Ting gontang ganting kayu lodro gemak seser.” Lalu, mereka menghempaskan kekean yang dilingkari tali tadi. Kekean yang paling seser atau yang berputar paling lama ialah yang menang. Sedangkan, yang paling cepat berhenti adalah yang kalah.
Setelah itu, dilanjutkan panggalan (red: melempar dengan mengenai sasaran) untuk menentukan pemenang akhir dari rangkaian permainan. Yang kalah, memainkan terlebih dahulu. Dilanjutkan secara urut sampai yang terakhir, yang pada awal permainan paling seser, memanggalkan kekean. Selanjutnya, kekean yang masih bertahan berputar, ialah pemenang terakhirnya. (SV-1)
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
Monday, 24 October 2016
Thursday, 27 December 2012
Ruang Menulis Bagi Pemuda
oleh: Silvia Dyah Puspita Sari
Salah satu aktivitas di hari Ahad ialah menanti “Islam Digest” sebagai wacana. “Islam Digest” sangat menarik untuk dibaca. Banyak ilmu yang bisa didapat di dalamnya, terutama peristiwa mutakhir dan pengetahuan tentang islam. Berkaitan tentang ilmu-ilmu islam, saya ingin mengusulkan agar adanya penambahan rubrik “Islam dan Tulisan” atau pembahasan topik tersebut. Hal ini saya usulkan karena dewasa ini banyak pemuda yang berminat dalam dunia kepenulisan. Supaya tulisan yang mereka tulis bisa tetap dinikmati oleh khalayak ramai karena masih sesuai dengan ajaran islam. Tentunya disertai penjelasan tentang tulisan dan batasan tulisan yang bagaimana tulisan tersebut pantas dikonsumsi publik. Semoga dengan adanya pembahasan tentang topik tersebut dapat memberikan pencerahan tulisan kepada pembaca ataupun kepada pemuda khususnya.
Silvia Dyah Puspita Sari
Guru SD di Pati, koordinator divisi di organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Pati.
#
dimuat di Republika, 2 Desember 2012
Saturday, 2 June 2012
Rubrik Debat Mahasiswa
Tema ”Setujukah Anda hasil ujian nasional digunakan untuk seleksi masuk perguruan tinggi?”
Hasil ujian nasional hanya mencakup beberapa mata pelajaran saja dan standar kelulusan pun disamakan. Jadi, alangkah baiknya kalau perguruan tinggi tetap mengadakan seleksi masuk sesuai standar masing-masing. Hal ini dikarenakan minat siswa satu dan lainnya berbeda terhadap banyaknya jurusan atau program studi di perguruan tinggi.
Diterbitkan di Republika, 2 Mei 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)



