Si Bolang
Oleh Silvia Dyah Puspita Sari
Pagi yang bersahabat. Matahari mulai menunjukkan dirinya dengan malu-malu. Dari kejauhan terlihat sosok anak laki-laki yang berperawakan tinggi berjalan pelan di sekitar persawahan itu. Ia pun segera duduk di galengan sawah, memandangi matahari dan menikmati sepoinya angin pagi. “Hmmm, sejuknya...” katanya sembari menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Tak terasa hampir setengah jam ia hanya duduk di tempat itu. Sampai-sampai ia tak merasa bahwa ada orang yang memperhatikannya dari kejauhan. Ia baru tersadar ketika ada suara yang terdengar lantang memanggilnya, “Bolang... Si Bolang... Ayo cepat pulang!” tetapi ia hanya diam. Ia sudah tak asing dengan suara itu yang tak lain adalah ayahnya.
Perlahan suara itu semakin keras, berkali-kali. Ternyata ayahnya sudah berada di belakangnya. Si Bolang mengarahkan mata ke arah ayahnya. Kali ini ayahnya menatap tajam, Bolang menundukkan wajah dan segera berdiri, tak ingin membuat orang tua satu-satunya marah di pagi yang begitu bersahabat ini.
“Mau jadi apa kamu, Bondan? Tiap hari kerjaannya seperti ini. Ayo berangkat sekolah. Udah besar juga, ingat umurmu, seharusnya kamu sudah tamat MTs/SMP dan tanpa disuruh pun kamu harus tahu, kamu ini harus berbuat apa,” kata ayahnya kepada Bolang yang mempunyai nama asli Bondan.
“Bapak ‘kan sudah tahu kalau aku ini ingin sekali menjadi pemain kendang dangdut. Kenapa juga harus sekolah?” jawab Bolang sambil berjalan kaki meninggalkan persawahan dan kembali menuju rumahnya. Ayahnya mengikuti dari belakang.
“Bondan... Sebenarnya,” sapa ayahnya dengan halus, belum selesai Bolang sudah memotongnya, “Bapak, panggil aku dengan nama Bolang saja, aku lebih suka dipanggil Bolang seperti tadi ketika Bapak memanggil aku dari jauh.”
“Iya iya, Bon, eh Bolang... Sekolah ‘kan bisa buat kamu tambah pintar, punya pengalaman dan tambah teman juga. Kalau ingin jadi pemain kendang dangdut juga harus sekolah, paling tidak harus lulus sekolah, minimal belajar sembilan tahun. Pemain dangdut bukan orang biasa-biasa saja, harus punya ilmu dan punya ijazah tentunya. Kalau kamu bisa lulus sekolah ‘kan nanti dapat ijazah terus digunakan untuk syarat jadi pemain kendang dangdut,” terang ayahnya dengan dalih membujuk anak semata wayangnya agar mau sekolah.
“Oh, begitu ya, Bapak? Jadi memang benar harus sekolah dulu kalau mau jadi pemain kendang dangdut? Yang biasa Bapak katakan itu benar, ya?” tanya Bolang dengan pertanyaan beruntun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ayahnya hanya tersenyum puas karena Bolang terlihat setuju-setuju saja dengan pernyataan ayahnya yang belum pasti kebenarannya. Pada saat itu pula, Bolang bersiap-siap berangkat sekolah. Ia begitu lincah dan cepat dalam bertindak. Tidak lebih dari setengah jam udah siap dengan seragamnya. Ini kali terlihat agak rapi dari biasanya. Baju putih tak terlihat begitu putih dan celana panjang birunya yang sudah terlihat rapi. Hanya saja sepatunya sudah terlihat agak butut.
Sebelum berangkat, seperti biasa ia duduk di ruang tamu sambil memainkan kendangnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendendangkan lagu dangdut yang disukainya.
“Bolang, Ibu harap ini terakhir kali kamu pindah sekolah. Ibu sudah tidak sanggup menahan malu setiap kali pindah selang beberapa hari pasti ada surat undangan dari sekolah melaporkan kenakalanmu itu. Jika terjadi demikian lagi, Ibu akan minggat tidak mau mengurusmu lagi.” Pesan ibunya sebelum Bolang berangkat sekolah.
“Bolang, ingat, ini hari pertamamu di sekolah baru, di Madrasah Tsanawiyah desa sebelah, kamu jangan sampai berbuat yang aneh-aneh, jangan sampai kamu dikeluarkan dari sekolah lagi, Bapakmu ini sudah tua, sudah capek kalau harus ngurus pindah sekolahmu entah ini sudah yang ke berapa kalinya,” ungkap ayahnya dengan mengelus dada sambil menghembuskan nafas panjang. Bolang hanya senyam senyum mendengar ucapan ibu dan ayahnya.
“Eh, sebentar, nanti kalau memperkenalkan diri menggunakan nama Bondan saja ya?” pesan ayahnya.
“Ah, Bapak, nama Bolang saja ya...” pinta Bolang dengan tetap bersi keras.
“Ya terserah kamu saja lah, yang penting sekolah yang benar, tapi kenapa kok kamu malah suka dipanggil Bolang?” tanya ayahnya perlahan.
“Bolang terdengar lebih gaul, Bapak! Itu ‘kan nama julukanku sejak usiaku dua belas tahun, karena suka berpetualang, aku ini bocah petualang atau bolang, Bapak.” Jawabnya dengan bangga sambil membusungkan dadanya ke depan sambil ditepuk-tepuk dengan telapak tangan kanannya.
“Ya sudah, sana berangkat!” kata Bapaknya sambil melambai-lambaikan tangan kanannya. Bolang pergi saja tanpa pamitan pada ayahnya, seperti biasa hanya dengan senyuman dan sedikit anggukan kepalanya. Bolang pergi ke sekolah berteman dengan sepeda onta ayahnya, ia mengayuh sepeda dengan sangat cepatnya.
Di tengah perjalanan menuju sekolah barunya, ia melihat warung kecil, ia berhenti mengayuh dan menghentikan sepedanya. Ia berdiri tenang, diam tanpa kata melihat warung tersebut. Matanya tertuju pada sebungkus rokok. Ia merasa menemukan oase di tengah perjalanannya. Ia termenung beberapa menit kamudian menggeleng-gelengkan kepalanya, “Wah, enak sih enak, tapi aku harus sekolah, anak sekolah tidak boleh merokok, kata Pak Guru itu tidak baik untuk badan, aku tidak mau rokok lagi, aku pasti bisa,” ia kembali mengayuh sepedanya.
Beberapa menit kemudian, Bolang sampai di depan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang ditujunya. Bel masuk berbunyi, ia sampai dengan tepat waktu. “Untung saja upacara bendera belum dimulai,” lontarnya tiba-tiba.
Ia langsung memarkirkan sepedanya di tempat parkir sepeda. Banyak anak melihatinya dengan penuh tawa dan senyuman yang seakan meremehkan. Beberapa anak yang berada di pojok tempat parkir berucap agak keras, “Hari begini masih naik onta? Entar Ontanya buang kotoran disini lho, kamu harus membersihkannya. Hahaha... Nggak gaul!” Bolang tidak terima diejek seperti itu, ia pun membentak seketika, “Heh! Ngapain lihat-lihat! Kamu itu yang nggak gaul!”
Beberapa anak tadi berlari menjauh menuju barisan. Pada saat yang bersamaan, seorang guru laki-laki mendekat ke arah Si Bolang, “Kamu Bondan anak baru di kelas VIII (baca: delapan) ya?”
“Iya, Pak. Panggil saya Bolang saja Pak, saya tidak suka nama Bondan. Bolang lebih gaul, Pak.” Ucapnya penuh ketegasan.
“Ya sudah, Bolang, lain kali sama teman harus lebih sopan, jangan membentak seperti itu, ini di madrasah, tempat untuk belajar, tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tapi juga akhlak dan perilaku semua siswa yang sekolah di sini. Tasmu diletakkan di sini dulu, kamu segera masuk ke barisan,” kata guru laki-laki tersebut dengan ramah kemudian menunjukkan Bolang ke barisan dengan arahan tangannya.
Bolang berlari ke barisan sambil berkata dalam hati, “Wah, ternyata ada guru yang sangat baik hati, sedikit pun tidak marah padaku ketika aku dirasa salah, guru tadi hanya menasehatiku, ramah pula.” Bolang terlihat senyam senyum sendiri. Teman di sekelilingnya melihatnya dengan sedikit aneh sambil mengeleng-gelengkan kepala.
****
Tak terasa, Bolang sudah genap seminggu di madrasah. Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Ia baru melangkahkan kaki memasuki ruang kelas tanpa berucap salam. Padahal, sudah ada guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ya. Hari ini adalah hari pertama ia terlambat masuk kelas. Guru tersebut meminta ia berdiri sebentar di depan kelas. “Bondan, eh Bolang, tunggu dulu, jangan duduk dulu,” Bolang menghentikan langkah.
“Iya, Bu. Ada apa?” tanya Bolang dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Kamu tahu kalau kamu terlambat?”
“Iya, Bu, saya tahu, karena itu saya ingin segera duduk dan mengikuti pelajaran dari ibu.” Jawab Bolang dengan tegas.
“Baiklah, tidak apa-apa untuk hari ini karena kamu masih baru di madrasah ini. Ibu suka kedisiplinan, dengan disiplin nanti hidup bisa lebih teratur, hargailah waktu. Begini Bolang, kalau kamu terlambat, sebaiknya mengucapkan salam ketika akan masuk ruang kelas, dan sebaiknya juga meminta maaf kepada guru yang sedang mengajar.” Jelas ibu guru dengan penuh kesabaran.
“Iya, Bu Lastri yang baik hati,” jawab Bolang kepada gurunya sambil menyebut nama karena Bu Lastri suka dengan keramahan siswanya.
Bu Lastri tersenyum dan mempersilakan Bolang duduk. Seisi kelas sudah terbiasa memanggil Bondan dengan nama Bolang, termasuk guru-guru. Beberapa jam telah terlewati. Siswa kelas VIII-A sudah mulai merasa lelah, sampai akhirnya terdengar bel istirahat yang sudah tidak asing di telinga. Anak-anak keluar kelas dan menuju kantin.
Bolang masih di dalam kelas. Ia hanya bisa memandangi temannya yang sedang menikmati jajanan. Ada beberapa teman sekelasnya yang membawa makan kecil yang telah dibeli dari kantin untuk dimakan di dalam kelas. Bolang pun mulai berbuat semaunya. “Eh, kelihatannya enak, sini aku minta jajanmu!” Bolang mengambilnya sendiri.
“Jangan, Bolang! Ini jajanku,” teriak teman yang badannya lebih kecil dengan wajah ditekuk.
“Tapi aku ingin,” jawab Bolang masih mempertahankan.
Salah satu teman mendekat dan ikut berbicara, “Bolang, kamu nggak boleh seperti itu pada Deni. Sesama teman harus saling berbuat baik, kalau meminta sesuatu pun harus dengan izin yang punya. Ini makan saja jajanku kalau kamu mau,” katanya sambil menyodorkan satu bungkus jajan ke arah Bolang.
“Terima kasih ya, Wahyu. Maaf ya Den, tadi sudah berlaku yang nggak baik padamu,” ujar Bolang sambil berlalu kemudian menikmati jajan tersebut.
Keesokan harinya adalah pelajaran Olahraga, pelajaran yang sangat disukai oleh Bolang. Ia terlihat beda karena masih mengenakan seragam olahraga sekolah lamanya. Bolang bersama teman sekelas sudah berada di sisi lapangan, ia menghampiri guru olahraga.
“Pak Pono, hari ini olahraganya apa?” tanyanya dengan polos.
“Nanti kalian jalan-jalan pelan, terus lari mengelilingi lapangan. Ya biasa pemanasan dulu. Setelah itu, nanti kalian bermain kasti,” terangnya dengan santai.
“Oke, Pak, siap,” ucapnya sambil berdiri tegak dan mengangkat tangan kanannya layaknya hormat bendera. Pak Pono tersenyum, Bolang kembali bersama teman sekelasnya.
Pelajaran olahraga berlangsung, siswa-siswa terlihat semangat berlari mengelilingi lapangan. Ketika berlari, Bolang menikmatinya dan seperti biasa sambil bernyanyi dangdut, kali ini yang menjadi sasarannya adalah pundak temannya.
“Ah, Bolang, lagi-lagi hobimu menabuh yang tidak pada tempatnya,” kata temannya sambil tertawa lepas.
Bolang merasa senang karena temannya tidak marah, ia menjadi semakin akrab dengan teman sekelasnya itu. “Iya, Dito, aku sangat suka menabuh kendang, aku punya dua kendang di rumah, kapan-kapan kalau kamu mau main ke rumahku boleh kok,” ucapnya tiba-tiba dengan terus menabuh-nabuh pundak temannya.
“Wah, boleh juga itu Bolang, kelihatannya asyik,” kata Dito dengan tetap berlari di depan Bolang.
Setelah berlari, mereka bermain kasti. Tidak terasa pelajaran olahraga pun hampir berakhir, Bolang dan teman-temannya beristirahat. Semua siswa minum air putih yang dibawanya sebagai bekal, kecuali Bolang yang terlihat diam karena hanya dia yang tidak membawa bekal minum.
“Bolang, coba ke sini sebentar!” Pak Pono memanggilnya, Bolang segera berdiri dan melangkahkan kaki ke sumber suara.
“Iya, Pak Pon, ada apa?” tanya Bolang kaget dan dengan tetap memanggil gurunya dengan panggilan akrab yaitu Pak Pon yang kebetulan lahirnya dengan weton pon .
“Kamu tidak bawa bekal ya? Ini Bapak punya air minum untuk kamu, lekas diminum ya,” kata Pak Pono sambil menyodorkan satu botol air minum ke arah Bolang. Bolang pun mengambilnya dan mengucapkan terima kasih.
****Suatu ketika saat jam istirahat Bolang curhat sama guru yang paling dianggapnya baik, Pak Pono, ya curhat dengan guru olahraga yang memang paling dekat dengan siswa. Bolang merasa dekat dengan Pak Pono. Ini adalah kali pertama ia curhat dengan guru di sekolahnya. “Pak Pon, baru kali ini lho saya betah di sekolah, Madrasah Tsanawiyah di sini bisa membuat saya nyaman, apalagi dengan Bapak,” Bolang pun memulai curhatnya. Ia tidak malu sedikit pun. Pak Pono juga terlihat antusias menanggapi cerita Bolang. Terus guru itu mengorek info tentang dirinya lebih dalam. Dengan polosnya dia mengakui segala yang pernah dilakukannya, dia juga sudah terbiasa bonek ke Jatim hanya untuk lihat tontonan dangdut favoritnya. “Dulu saya juga sering menenggak minuman keras, Pak, sebelum saya tahu kalau minuman keras itu haram, yang jelas tidak boleh diminum begitu ‘kan, Pak? Kita hanya boleh minum yang halal saja ya, Pak? Saya baru tahu setelah saya belajar di Madrasah,” ujarnya dengan tanpa bersalah. “Iya, Bolang. Kalau minum sesuatu harus yang halal agar air yang mengalir di tubuh kita mengalir sesuatu yang baik. Oh ya Bolang, jangan suka bepergian jauh-jauh sendirian lagi, bisa membuat orang tua khawatir. Belajar untuk menjadi anak yang shaleh, bisa membahagiakan orang tua itu menyenangkan lho, dapat pahala juga,” terang Pak Pono dengan santai dan terlihat ramah. Lima belas menit berlalu begitu cepat. Bel masuk telah dibunyikan oleh petugas. “Pak, saya pamit ke kelas dulu,” ucapnya dan Pak Pono menjawab dengan anggukan. Kali ini adalah pelalajaran matematika, salah satu pelajaran yang membosankan bagi si Bolang. Di tengah pelajaran ia menabuh-nabuh meja layaknya menabuh kendang kesayangannya. Ia pun menabuh sambil bernyanyi pelan. “Bolang, jangan menabuh meja seperti ini, apalagi di tengah pelajaran, matematika lagi, nanti Pak Yudi bisa marah lho,” teman sebangkunya mengingatkan. “Biarin, aku bosan, Ebed,” jawabnya dengan tetap melantunkan syair-syair lagu dangdut tanpa menghiraukan nasehat temannya. Sejenak kemudian, Pak Yudi menghampiri tempat duduk Si Bolang. Sampai-sampai ia tidak menyadari kalau guru sudah berada di sebelahnya, “Bolang, apa yang kamu lakukan?” “Saya nyanyi saja Pak, saya ingin jadi pemain kendang dangdut, Pak,” jawabnya dengan santai. “Ya, boleh-boleh saja kamu punya keinginan, nyanyi pun boleh, tapi harus pada tempatnya,” Bolang dinasehati. Pak Yudi tidak ingin membuat Bolang merasa dimarahi karena sedikit tahu alasan Bolang pindah-pindah sekolah karena kenakalannya. Kali ini Bolang mendapatkan suatu teguran yang membuatnya kegirangan. “Bolang, kamu suka nyanyi ya?” “Iya, Pak, saya sangat suka nyanyi, tapi lagu dangdut,” jawab Bolang dengan tersenyum. “Kalau begitu, Bapak ingin mendengar kamu bernyanyi di depan kelas, iramanya boleh dangdut, tapi syairnya tentang matematika, boleh sambil menabuh sesuatu. Bagaimana kamu berani tampil di depan?” Pak Yudi bertanya dengan penuh tantangan. Ia ingin agar Bolang juga menjadi suka dengan matematika. Menggabungkan metode bernyanyi sambil belajar matematika. Bolang diam, ia menundukkan wajah terlihat ragu. “Saya tidak suka pelajaran matematika, Pak,” jawabnya agak malu. “Wah, sayang sekali ya kalau begitu, Bolang. Padahal kamu punya bakat yang bagus, katanya ingin jadi pemain kendang dangdut, masa’ malu kalau cuma nyanyi dangdut di depan kelas? Masalah syair, ambil dari yang Bapak ajarkan tadi ‘kan bisa.” Tegas Pak Yudi sambil tersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba Bolang berdiri dan mengagetkan seisi kelas. “Baik, Pak. Saya ingin jadi pemain kendang dangdut, saya berani tampil di depan kelas. Bolang melangkahkan kaki menuju depan. Sesampainya di depan ia berdiri kaku dan hanya menggeleng-gelengkan wajah ke kanan dan ke kiri. Wajahnya terlihat pucat pasi, tangannya gemetaran. “Bagaimana, Bolang? Kenapa diam? Seorang pemain harus kreatif, ini baru lingkup kecil, hanya di dalam kelas, kamu pasti bisa. Ayo, semangat!” Pak Yudi memberikan motivasi pada Bolang kemudian mengalihkan pandangan kepada siswa satu kelas sambil berkata, “Ayo semua siswa, kita berikan tepuk tangan untuk Bolang, calon pemain kendang terkenal, dia akan menyanyikan sebuah lagu.” Seisi kelas memberikan tepuk tangannya. Wajah Bolang terlihat ceria. Baru kali ini ia mendapatkan tepuk tangan yang semeriah ini dari teman-temannya. Perlahan ia membuka mulutnya dan mulai melantunkan syair-syair. Ia masih terbata-bata dalam bernyanyi karena ia tidak suka matematika. Akan tetapi, lama kelamaan ia mulai luwes bernyanyi tentang matematika. Ini kali pertama ia mulai menyukai pelajaran matematika. Kini aku suka Matematika memang aku suka (ya-ya-ya) Kini aku gila Matematika kini aku memang gila (ya-ya-ya) Setelah aku tahu Matematika dapat mencerdaskan otakku (o-o, o-o) Setelah aku tahu Matematika dapat mencapai prestasiku (o-o, o-o) Bolang sudah selesai bernyanyi, ia pun berlari kecil ke arah Pak Yudi sambil berkata, “Pak Yudi, terima kasih banyak sudah mengizinkan saya bernyanyi, matematika ternyata menyenangkan ya,” ucap Bolang seketika dengan wajah berbinar-binar sambil menyalami dan mencium tangan guru tersebut. “Iya, Bolang. Sama-sama. Kamu sangat hebat. Kalau kamu suka sesuatu, Bapak percaya kalau kamu bisa melakukannya. Semoga kelak kamu bisa menjadi pemain kendang profesional. Banyak-banyak berdoa ya. Kamu juga harus rajin belajar supaya kamu bisa menjadi anak yang shaleh, pintar dan ilmu kamu pun bertambah,” ucap Pak Yudi kemudian menambahkan, “ya untuk semuanya saja, belajar yang rajin, menuntut ilmu di sekolah dan juga di kehidupan bermasyarakat juga bisa, supaya jadi anak yang bermanfaat untuk agama, orang tua, dan bermanfaat bagi siapa pun,” Pak Yudi melanjutkan pelajaran, kali ini Bolang memperhatikan dengan saksama. Bolang benar-benar terlihat bahagia. Sifat ramah guru dan teman-temannya membuatnya betah di Madrasah Tsanawiyah tersebut. Ia ingin menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada orang tuanya. Di dalam hatinya ia berharap penuh keyakinan bahwa kelak ia bisa menjadi pemain kendang profesional dan bisa membahagiakan orang tuanya. **** Silvia Dyah Puspita Sari. Guru SDN Kertomulyo 01, Trangkil, Pati. Alumni UNNES jurusan PGSD. Inspirasi cerita diperoleh dari Ubaidillah Adib (rekan guru di Pati).

