Pesona Jiwa Penuh Tanya
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
”Haruskah kugapai seberkas sinar atau kubiarkan kelam menyelimuti jiwa?”, tanya seorang gadis berambut sebahu yang sedang duduk menopang dagu di teras rumahnya. Kerut di dahinya menjadikan pertanda begitu banyak tanya dalam hatinya. Bingung. Mungkin itu yang sedang dirasakan. Tiba-tiba ia bangkit dari tempat ia terdiam tadi. Tanpa sadar dia berjalan mondar-mandir seperti orang linglung. ”Semangat!!!”, spontan kata itu terucap tanpa ia sadari.
Wajah yang semula cemberut dan terlihat ditekuk, kini sudah menjadi cerah bak terkena cahya sang mentari. Tanpa membuang waktu, dia pun bergegas ke dalam mengambil tas mungil di kamarnya. Dia menyandang tas di bahu kanannya dengan tergesa-gesa. Dia beranjak ke luar kost. Ya. Gadis yang acapkali dipanggil dengan nama Sevi adalah anak kost yang sedang kuliah di kota tetangga, dia bukan lagi anak yang setiap harinya bersama ayah dan ibu lagi.
”Alhamdulillah sudah rapi...”, katanya setelah selesai mengenakan sepatu seraya berdiri. ”Tinggal berangkat ke Kampus saja”, pikirnya dalam hati.
Pagi yang begitu indah, mentari sudah mulai meninggi. Terdengar suara ayam berkokok bersahut-sahutan. Dedaunan menari-nari dengan pelan. Cuaca yang begitu mendukung untuk beraktivitas.
Gadis yang berambut lurus yang terkenal tomboi itu mulai melangkahkan kaki ke teras rumah. Tiba-tiba semua terasa gelap. Kerongkongannya terasa tersendak. Sakit. Ingin muntah rasanya. Dia seperti ingin menjerit tapi tak kuasa. Badan terasa melayang, tak tahu apa yang terjadi.
***
”Aaaghh...”, teriak Sevi seketika terbangun dari lelapnya.
”Sevi..., kamu kenapa?”, tanya teman sekamarnya yang juga ikut terbangun karena terkagetkan oleh suara seperti letusan bom yang mengguncangkan orang di sekitarnya.
Sosok yang ditanya tidak segera menjawab tapi hanya terrmangu dalam diamnya. Tiada sepatah kata pun yang diucapkan sehingga teman sekamarnya yang terkenal sabar itu menepuk-nepuk bahu temannya yang sedang bermuram durja.
”Sev...kamu kenapa? Cerita dunk... Jangan diam kayak gini... aku kan jadi bingung mau gimana...”, ucap teman sekamarnya.
Akan tetapi, tanpa diduga sebelumnya, tak terasa air mata mulai jatuh ke pipi. Perlahan.
”Hiks... hiks... Heni...”, sesak Sevi dalam tangisnya sambil memanggil nama teman sekamarnya itu.
”Hen... jangan tinggalkan aku ya... aku takut... aku bingung harus berbuat apa...”, pinta Sevi seraya memohon pada Heni yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri baginya.
”Iya... Insya Allah aku akan di sini bersamamu... Jangan takut pada apapun dan siapapun karena hanya kepada Allah-lah kita boleh takut... Tenang saja ya Sobat... Istighfar...”, ungkap Heni menasehati.
Sejenak suasana hening. Hanya detak jarum jam yang terdengar di kamar yang lumayan lebar itu. Mereka yang masih terduduk di ranjang yang berada di pojok kamar, kini masih terdiam, berpandangan. Namun, terdengar suara alunan lagu shalawat, yang nadanya meninggi. Heni beranjak dari ranjang tempat ia duduk tadi. Dia berjalan sekitar setengah meter ke depan menuju meja belajarnya, mengambil handphone-nya yang diletakkan di atas. Alarm. Tepat jam 3 pagi. Ya, suara alarm dari handphone-nya berhasil memecahkan keheningan. Alarm dimatikan.
”Sevi, aku mau shalat tahajjud dulu ya... Aku tinggal dulu gakpapa ya? Atau kamu juga mau ikut shalat tahajjud sama aku? Gimana, Sev?”, ucap Heni panjang lebar.
”Gakpapa Hen... Makasih ajakannya... Lain kali aja ya?”, jawab Sevi dengan singkat sembari tersenyum.
Begitulah Sevi. Dia selalu menolak ketika diajak untuk shalat tahajjud oleh Heni. Kata yang sama seperti itulah yang selalu diucapkannya. Entah apa sebabnya, dia tak pernah cerita.
”Krek...”, suara pintu ketika dibuka oleh Heni yang beranjak ke luar untuk mengambil air wudlu.
Heni berjalan dengan langkah pelan sambil bertanya-tanya dalam hati, ”Ada apa dengan Sevi? Apa yang sedang terjadi padanya? Kenapa belakangan ini dia jadi aneh kayak gini ya?”
Sejenak kemudian, Heni telah berada di ruangan yang penuh dengan kesunyian. Dia hanya tersenyum melihat sahabatnya yang terlihat sedang ada masalah itu. Sahabatnya pun membalas senyumnya.
Heni segera mengenakan mukenanya yang putih berbordir hijau itu. Ketika dia shalat, Sevi melihat sahabatnya itu dengan senyum dan mata berkaca-kaca.
”Heni... Kenapa kau bisa sehebat itu, setegar itu, sesabar itu, dan kau juga alim? Sedangkan aku...?”, ucap Sevi pelan dengan nada yang semakin rendah, air mata mulai membanjiri pipinya.
”Aku... Kenapa aku begini???”, tanya Sevi pada dirinya sendiri yang masih terus memperhatikan gerakan shalat sahabatnya itu tahap demi tahap.
***
”Sevi, kamu sudah sadar? Syukurlah...”, kata Heni seketika melihat sahabatnya mulai membuka mata.
Si gadis tomboi itu hanya tersenyum tanpa kata ketika ditanya. Akan tetapi, dia terlihat bahagia. Alhamdulillah. Itu yang ada dalam jiwanya yang sedang haus akan cinta dari-Nya, Tuhan yang Maha Kuasa”, hanya itu yang ada dalam pikirannya. Ingin bertutur kata tapi tak sanggup.
Sosok tubuh yang berbaring telentang di atas ranjang tak kuasa untuk ungkapkan kata-kata saat itu. Hanya terdiam, tubuhnya masih terasa lemas, tapi dalam kesedihan yang teramat itu dia masih mencoba untuk tetap tersenyum karena dia tak ingin membuat sahabatnya kawatir dan bermuram durja karenanya. Dia masih juga tak bisa ungkapkan apa yang sedang melanda dirinya yang sedang tak berdaya walaupun pada sahabat baiknya itu, Heni.
”Terimakasih...”, katanya dengan nada agak lirih karena dia ingin berucap itu, entah sahabatnya mendengar ucapannya atau tidak. Tak apalah. Yang terpenting baginya, Heni tetap berada di sampingnya tak hanya ketika ia bahagia tetapi juga di saat seperti itu pun sahabatnya masih setia menemaninya.
”Sev, apa yang terjadi padamu?”, terlontar pertanyaan dari mulut gadis yang berjilbab agak lebar itu sambil mengelus-elus rambut sahabatnya yang masih terikat dan acak-acakan itu.
Pertanyaan yang tidak ingin didengar Sevi saat itu. Dia ingin menjerit saja tapi tak ia lakukan. Dia tak mau membuat sahabatnya sedih. Dia pun memperhatikan gurat wajah penuh tanya sahabatnya yang berkacamata itu, tapi ia hanya tersenyum saja.
***
Matahari mulai bergeser menuju peraduannya. Semilir angin senja menyibakkan rambut lurus si gadis tomboi. Sosok itu hanya termangu dan diam membisu di teras rumah. Ya. Itulah kebiasaannya di sore hari. Dia duduk santai sambil melihat-lihat bunga mawar merah yang ditanam di depan rumah tinggalnya sekarang, rumah kost-nya. Menyambut datangnya petang, rangkaian kata dalam bibir Sevi yang sesungguhnya mempunyai penuh makna masih tertahan dalam dada.
“Tidak!!!”, ucap Sevi sehingga teman-temannya yang ada di dalam rumah terkagetkan.
”Sevi... Ada apa?”, serentak teman-teman bertanya kaget.
”He... Tidak ada apa-apa... Maaf...”, jawab Sevi penuh malu dengan bibir meringis sambil tersenyum usil.
Teman-temannya kembali lagi ke dalam tapi hanya satu yang masih diam di hadapan Sevi.
”Eh, Heni... Kenapa diam saja?”, sapanya memecahkan kesunyian.
Heni pun duduk mendekati Sevi. Mereka pun bercakap-cakap. Barisan kata dalam bibir Sevi yang semula masih tertahan mengusik ruang pesona, tak pernah bisa terluapkan dan hanya menjadi bayang dalam kehidupan, kini perlahan sudah mulai bisa terluapkan perlahan. Semua itu berawal dari ketulusan sahabatnya yang terlihat lucu dengan kaca mata mungilnya itu.
Tanpa terasa waktu sudah berlalu begitu cepatnya. Malam pun datang. Besok adalah hari pertama di bulan Ramadhan. Setelah selesai shalat tarawih, di bawah terangnya langit karena gemerlap bintang, kedua sahabat tadi duduk santai di atas rumput-rumput beralaskan sepasang sandal mereka.
”Sevi... Sevi... Kenapa tidak cerita sejak dulu aja sih?”, tanya Heni dengan nada menggoda dan melanjutkan dengan pertanyaan retoris, ”Ternyata selama ini kamu terlihat bingung, malam-malam berteriak ketika terbangun, dan tadi pagi sampai pingsan karena memikirkan itu???”.
”Iya Hen... Mungkin bagimu itu masalah yang ringan, tapi sebaliknya bagiku... Kepalaku sampai pusing memikirkan itu...”, sanggah Sevi sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.
”Sevi... Masalah agama dan pengetahuan di dalamnya memang perlu kita ketahui, semua tergantung pribadi dalam menyikapinya”.
”Lalu Hen, aku harus bagaimana?”, tanya Sevi dengan dahi dikerutkan, ”Sikapku selama ini, penampilanku yang seperti anak cowok, dan yang lebih parah lagi, aku selalu mengumbar auratku, terlebih rambutku yang lurus ini”, katanya sambil mengelus-elus rambutnya.
”Aku yakin, kamu sudah bisa menentukan sesuatu yang terbaik bagimu, termasuk penampilanmu itu...”, jawab Heni dengan santai sambil membenahkan jilbabnya yang melambai-lambai tertiup angin.
Malam semakin larut. Keduanya sudah mulai mengantuk. Besok hari pertama puasa di bulan Ramadhan sehingga Heni bergegas bangun dari duduknya.
”Sev... Kita tidur sekarang yuk?”, ajak Heni yang sudah berdiri seraya mengulurkan tangan pada sahabatnya yang disambut dengan senang.
”Iya, Hen. Eia Hen, tolong besok fajar kalau kamu bangun, aku dibangunkan ya? Aku ingin puasa dan shalat tahajjud”, pinta Sevi.
Heni hanya tersenyum penuh kemenangan melihat sahabatnya antusias seperti itu.
***
”Kring.... Kring...”, suara alarm jam weker Sevi berbunyi. Dia belum juga terbangun. Heni yang sudah bangun 30 menit yang lalu hanya tersenyum, kemudian ia membangunkan sahabatnya yang masih tidur terlelap. Sevi pun bangun sambil mencoba membuka kedua matanya.
Dalam keheningan malam mereka pun terduduk di sajadah panjang untuk mengingat-Nya. Mereka melantunkan kata-kata cinta hanya kepada diri-Nya yang selalu ada dalam debaran hati.
Bibir mereka gemetar ketika mengeja nama-Nya. Ruang hidup yang kadang terasa semakin sempit tanpa cinta kasih suci dari-Nya, Zat yang Maha Agung. Ketika terkadang seorang yang penuh tanya akan kebenaran tentang agama dan ajarannya berpikir bahwa Dia telah pergi ke ujung dunia, tanpa terasa mereka akan menemukan kembali seberkas cahya harapan. Hal itulah yang akan menjadikan tanya dalam pesona jiwa sehingga mereka menitikkan air mata yang telah ada di pelupuk mata.
***
Dimuat di Buletin Sastra ”Al-Qolam” Edisi II / Mei 2010


0 comments:
Post a Comment