Kamu tak pernah lepas dari genggaman tanganku pada hari-hari yang kulalui. Sepi yang kadang menyelimuti diri,seketika menjadi begitu ramai dan terpancarkan senyum di wajah ketika kamu sudah berteman jemari lentikku yang memejet berbagai tombol di tubuhmu dengan iringan nada yang kamu alunkan. Tentunya untuk mengirim suatu pesan entah kepada siapa yang sedang aku rindu.
Apakah kamu tahu?
Sekarang bulan penuh rahmat dan ampunan-Nya telah datang, tapi aku masih saja tetap bersamamu, tak bisalepas. Seminggu selama Ramadhan ini telah berlalu, belum tampak perubahan.
Aku bingung. Kenapa aku begitu memujamu? Kamu yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat komunikasi telah aku salah artikan. Layaknya teman hidup, hadirmu sangat berarti dalamsepiku.
Pagi ini tampak murung karena mentari tak terlihat, tapi aku sangat bersyukur. Dengan cuaca yang seperti ini, terasa lebih ringan menjalankan ibadah puasa. Tak sengaja saat aku berjalan melewati kamar teman sekosku, aku melihatnya sedang mengaji, dia sudah sampai juz 10, sedangkan aku? Sebagian dari itu belum ada.
Aku mulai berpikir untuk kali pertama dalam ramadhan ini. Kesadaran timbul perlahan. Betapa aku telah jauh dari-Mu hanya karena benda itu, handphone. Aku harap masih ada waktu untuk memperbaikinya.
oleh Silvia Dyah Puspita Sari pada 22 Agustus 2010 jam 16:04


0 comments:
Post a Comment