Perjalanan panjang. Seperti biasa. Hari Rabu adalah hari yang panjang bagiku. Jadwal kuliah padat dari mentari menjelang sampai mentari hendak menuju ke peraduannya. Sorenya mengisi mentoring untuk kelompok adik-adik Tutorial PAI. Malamnya ngajar ngaji. Setelah itu, ada pembelajaran yang sangat berharga dari hasil ketemuan dengan Kak Nur, salah satu teman atau sesepuh di Pramuka, pembina yang membuatku kagum dengan untaian kata-kata motivasinya. Begitu dalam.
Thursday, 12 May 2011
Up Grading Wilayah (UG Wil) untuk Pengurus FLP se-Jawa Tengah dilaksanakan di Tegal. Tepatnya di Hotel Kencana. Hari ini adalah hari kedua UG Wil. Materi dilanjutkan dengan Talkshow Kepenulisan yang awalanya direncanakan di Pendopo kemudian pindah di Gedung Wanita.
Selesai acara, foto bareng dan tanda tangan. Tak terduga.
Selesai acara, foto bareng dan tanda tangan. Tak terduga.
Monday, 9 May 2011
“Jalan meraih mimpi memang tidak pernah mudah. Akan selalu ada onak dan duri yang menghalangi. Namun semangat, harapan, kerja keras, dan doa akan bisa mengatasi itu semua. Buku ini menulis tentang itu semua, sebagian ceritanya begitu menyentuh dan layak diapresiasi.”
–Habiburrahman El Shirazy
Novelis, Sarjana Al Azhar University, Cairo, Mesir
Penulis Novel Fenomenal Ayat Ayat Cinta–
TENTANG BUKU
Judul : Sekolah Kolong Langit
Edisi/cetakan : I / Cetakan 1, Maret 2011
Tebal : 224+xii halaman
Penerbit : pm-publisher Semarang
Harga : Rp 30.000,00
Sudah ber-ISBN
Kata Pengantar : Afifah Afra (Novelis – Ketua FLP Jawa Tengah)
Endorsment:
Habiburrahman El Shirazy (Novelis, Sarjana Al Azhar University, Cairo, Mesir. Penulis Novel Fenomenal Ayat Ayat Cinta),
Wardjito Soeharso (Pengelola penullismuda.com),
Sulaiman AlKumayi (Penulis Best Seller Kecerdasan 99 – Direktur Insisma),
Rianna Wati (Dosen Sastra UNS),
Muhammad Ali (Wartawan Suara Merdeka),
dan Agus M Irkham (Penikmat Cerpen).
Sekolah Kolong Langit…
Kumpulan Cerpen Inspiratif dan Penuh Pencerahan
Dari 23 penulis muda Indonesia
Oliphia Olive, Nurfita Kusuma Dewi, Syah Azis Nangin, Agus Qoribul Akhwan, Silvia Dyah Puspita Sari, Alvi Darojaturrois, Azhifah Zafitri, Edy Arif Tirtana, Muhammad Khoirul Anam, Eva Nuriatul Fajr, Mulipah, Raddy Wicaks al-Jihadi, Rizal Mubit, Hanifah Dian, Fajriatul Mubarokah, Adi Seno, Ahmad Khairul Anam el-Mughnie, Na’imah Awan Nur, Rofiq Hidayat, Nur Ariyanto, Winas Nazula Fajrin Maulia, R Fahra Nisa, Ali Margosim Chaniago
Oh iya, ada lima penulis muda yang merupakan mahasiswa UNNES jurusan PGSD lho…
Bagi yang berminat bisa menghubungi 081325184154 (a.n. Silvia)
Mari terapkan budaya baca, lalu kita MENULIS sekarang juga.
Salam dahsyat dan sukses selalu! ^_^
_Silvia Dyah Puspita Sari
Semarang, 6 Mei 2011, 21:45
Saturday, 7 May 2011
Friday, 6 May 2011
Pagi yang lumayan cerah. Saya; Silvia dan kelima teman saya; Novita, Susiana, Riana, Sikum, dan Nanang pergi ke SD Tambak Aji 04, Ngaliyan, Semarang. Kami bermaksud untuk observasi sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Pengembangan Pembelajaran IPS SD. Kami terbagi menjadi 3 sepeda motor, berboncengan. Saya bersama Novita.
Sesampainya di SD tersebut kami disambut dengan ramah oleh kepala sekolah; Sunarto,S.Pd dengan ramah. Kami dipersilahkan memasuki ruangan kepala sekolah. Setelah berbincang-bincang tak terlalu lama, guru kelas IV-A memasuki ruangan dan bertutur kata kepada kami. Beliau terlihat ramah dan tegas. Mendengar bel masuk telah dibunyikan, kami dipersilahkan untuk memasuki ruang kelas IV-A.
Saya dan kelima teman saya dipersilahkan duduk di belakang, di deretan bangku yang telah ditata dengan rapi. Pembelajaran IPS dimulai. Ruang kelas dan siswa telah dikondisikan dengan baik. Pembelajaran dilakukan berkelompok dengan metode diskusi yang di dalamnya ada presentasi oleh masing-masing kelompok.
Sesampainya di SD tersebut kami disambut dengan ramah oleh kepala sekolah; Sunarto,S.Pd dengan ramah. Kami dipersilahkan memasuki ruangan kepala sekolah. Setelah berbincang-bincang tak terlalu lama, guru kelas IV-A memasuki ruangan dan bertutur kata kepada kami. Beliau terlihat ramah dan tegas. Mendengar bel masuk telah dibunyikan, kami dipersilahkan untuk memasuki ruang kelas IV-A.
Saya dan kelima teman saya dipersilahkan duduk di belakang, di deretan bangku yang telah ditata dengan rapi. Pembelajaran IPS dimulai. Ruang kelas dan siswa telah dikondisikan dengan baik. Pembelajaran dilakukan berkelompok dengan metode diskusi yang di dalamnya ada presentasi oleh masing-masing kelompok.
Thursday, 5 May 2011
"Cinta itu menyembuhkan, bukan menyakiti"
Aku pernah mendengar kata-kata itu. Menyejukkan. Aku setuju. Bila cinta harus saling menjaga, menerima dan memberi. Cinta apa adanya. Cinta setelah ada perubahan hanyalah perjanjian, itu bukan cinta yang sesungguhnya. Kalau cinta hendak di kata. Kenapa harus diam. Apa benar cinta tak perlu kata, cinta hanya untuk dirasa? Aneh memang kalau sudah berbicara masalah cinta. Kadang logika pun tak mampu menjawabnya. Hanya rasa yang mampu berbicara. Lantas, apa yang dipermasalahkan dalam cinta? Satu hal yang perlu dipertanyakan, perhatian. Cinta butuh perhatian akan rasa sayang. Tulus tanpa dibuat-buat. Perhatian yang akan tetap dalam penantian. Perhatian sesaat, setiap waktu, atau perhatiaan jika ada mau. Entahlah. Hanya sang pembelajar cinta yang mampu menjawab akan rasa itu. Sulitnya kalau hati telah berpaut. Bertahan penuh tanya. Lepas pun sulit terasa. Mengambang diantara keduanya bagai hidup di tengah-tengah samudra. Hanya waktu akan mampu tuk membaca semua rangkaian peristiwa.
5 Mei 2011, 10:04
Silvia Dyah Puspita Sari
Aku pernah mendengar kata-kata itu. Menyejukkan. Aku setuju. Bila cinta harus saling menjaga, menerima dan memberi. Cinta apa adanya. Cinta setelah ada perubahan hanyalah perjanjian, itu bukan cinta yang sesungguhnya. Kalau cinta hendak di kata. Kenapa harus diam. Apa benar cinta tak perlu kata, cinta hanya untuk dirasa? Aneh memang kalau sudah berbicara masalah cinta. Kadang logika pun tak mampu menjawabnya. Hanya rasa yang mampu berbicara. Lantas, apa yang dipermasalahkan dalam cinta? Satu hal yang perlu dipertanyakan, perhatian. Cinta butuh perhatian akan rasa sayang. Tulus tanpa dibuat-buat. Perhatian yang akan tetap dalam penantian. Perhatian sesaat, setiap waktu, atau perhatiaan jika ada mau. Entahlah. Hanya sang pembelajar cinta yang mampu menjawab akan rasa itu. Sulitnya kalau hati telah berpaut. Bertahan penuh tanya. Lepas pun sulit terasa. Mengambang diantara keduanya bagai hidup di tengah-tengah samudra. Hanya waktu akan mampu tuk membaca semua rangkaian peristiwa.
5 Mei 2011, 10:04
Silvia Dyah Puspita Sari
Wednesday, 4 May 2011
Penantian yang tiba-tiba. Menanti sosok yang ditunggu tuk berbagi ilmu. Dalam keramaian terkadang hati pun merasa sunyi. Terkikis oleh hempasan tawa dan canda. Tetap menanti sambil mengerjakan sesuatu yang lain. Serangkaian peristiwa dalam hidup menjadi mahasiswa semuuanya terbayang. Campur aduk. Itu yang dapat dirasakan. Akan tetapi, gundah hati acapkali terasa. Oleh karena itu, kuat rasa untuk berusaha haruslah tetap ada. Mengerti akan pahitnya kehidupan, suatu saat akan datanag manis yang didapat. Riang. Damai akan dirasa. Semangat harus tetap berkobar tuk gapai impian walaupun terkadang penuh tanya. Semoga selalu ada harapan. Gapailah seberkas cahaya. Alhamdulillah tiba-tiba ada pengumuman yang menggembirakan. Penugasan tuk dapatkan ilmu yang lebih mendalam. Beribu syukur terucap perlahan.
Tuesday, 3 May 2011
Kontemplasi Mahasiswa
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
Dewasa ini minat mahasiswa untuk melakukan penelitian begitu rendah. Mereka cenderung hidup dalam budaya baru, semakin mengikuti arus globalisasi. Tanpa berpikir panjang dan hanya sekadar mengikuti. Di sisi lain, mereka mengesampingkan penelitian yang seharusnya bisa dilakukan. Tak banyak yang berminat melakukan penelitian karena kemalasan. Rasa malas itu perlu dijadikan suatu proses kontemplasi sehingga mereka memahami betapa pentingnya penelitian. Selain itu, bagi mereka kegiatan tersebut hanya membuang-buang waktu. Penelitian hanya pantas dilakukan bagi yang mempunyai rasa ingin tahu begitu besar. Malas untuk meneliti sesuatu yang sudah ada. Alasan seperti itu acapkali terdengar di telinga. Bahkan banyak yang lebih memilih profesi lain yang dianggapnya lebih menjanjikan.
Hal demikian seharusnya menjadi tanda tanya besar di kepala kita sebagai mahasiswa. Padahal, kalau kita menilik Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satu kewajiban mahasiswa adalah melakukan penelitian. Oleh karena itu, penelitian merupakan aktivitas yang selayaknya dilakukan oleh mahasiswa. Kontemplasi begitu diperlukan oleh mahasiswa mengenai fakta semacam ini. Mereka yang malas melakukan penelitian adalah orang yang benar-benar malas ataukah karena mereka tidak tahu konsep penelitian itu sendiri. Tidak sedikit orang yang menggunakan alasan malas dalam belajar karena sesungguhnya mereka belum mempunyai ilmu tentang hal tersebut.
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
Dewasa ini minat mahasiswa untuk melakukan penelitian begitu rendah. Mereka cenderung hidup dalam budaya baru, semakin mengikuti arus globalisasi. Tanpa berpikir panjang dan hanya sekadar mengikuti. Di sisi lain, mereka mengesampingkan penelitian yang seharusnya bisa dilakukan. Tak banyak yang berminat melakukan penelitian karena kemalasan. Rasa malas itu perlu dijadikan suatu proses kontemplasi sehingga mereka memahami betapa pentingnya penelitian. Selain itu, bagi mereka kegiatan tersebut hanya membuang-buang waktu. Penelitian hanya pantas dilakukan bagi yang mempunyai rasa ingin tahu begitu besar. Malas untuk meneliti sesuatu yang sudah ada. Alasan seperti itu acapkali terdengar di telinga. Bahkan banyak yang lebih memilih profesi lain yang dianggapnya lebih menjanjikan.
Hal demikian seharusnya menjadi tanda tanya besar di kepala kita sebagai mahasiswa. Padahal, kalau kita menilik Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satu kewajiban mahasiswa adalah melakukan penelitian. Oleh karena itu, penelitian merupakan aktivitas yang selayaknya dilakukan oleh mahasiswa. Kontemplasi begitu diperlukan oleh mahasiswa mengenai fakta semacam ini. Mereka yang malas melakukan penelitian adalah orang yang benar-benar malas ataukah karena mereka tidak tahu konsep penelitian itu sendiri. Tidak sedikit orang yang menggunakan alasan malas dalam belajar karena sesungguhnya mereka belum mempunyai ilmu tentang hal tersebut.
Monday, 2 May 2011
Selamat Hari Pendidikan Nasional...
Bagi anak-anak calon penerus bangsa, mahasiswa calon guru, para guru, mari perjuangkan pendidikan generasi sang pembelajar. Permudahkanlah sistem pendidikan di Indonesia. Hidup dalam kemandirian dan penuh dengan tanggungjawab. Semangat mendidik dan mencetak kader-kader pejuang dalam dunia pendidikan. Semangat menggapai ilmu dimana pun berada.
Bagi anak-anak calon penerus bangsa, mahasiswa calon guru, para guru, mari perjuangkan pendidikan generasi sang pembelajar. Permudahkanlah sistem pendidikan di Indonesia. Hidup dalam kemandirian dan penuh dengan tanggungjawab. Semangat mendidik dan mencetak kader-kader pejuang dalam dunia pendidikan. Semangat menggapai ilmu dimana pun berada.
Suasana yang begitu lain dari biasanya. Terasa sepi menyelimuti diri. Tangan ini bergerak memainkan keyboard. Hari yang beda. Itulah yang ada dalam benakku. Sepi. Tapi aku hanya ingin merasakan damai. Pagi ini aku tak tahu akan hari ini. Bayang melayang entah kemana. Jauh arah melintang. Tak terasa batin pun ikut bertanya diam.
Mentari mulai menampakkan diri. Menyelesaikan sesuatu yang sempat tertunda. Tugas. Ya, tentunya itu, apalagi kalau tidak itu. Teruslah berjuang gapai impian. Inilah jalan hidup.
Aku terus jalani hariku. Matahari mulai meninggi, terdengar suara Handphone berdering. SMS dari Ketua FLP Pati. Alhamdulillah... Aku tak menyangka sebelumnya. Aku diminta untuk mengikuti acara Up Grading FLP Se-Jateng yang insya Allah akan dilaksanakan tanggal 7-8 Mei 2011 di Tegal. Bagaimana ya? Aku ingin ikut. Hanya saja, aku harus izin orang tua terlebih dahulu. Tentunya aku berharap agar diizinkan, ini adalah peluang. Semenjak beberapa hari yang lalu, semangat ini semakin menyelimuti diri. Semangat! ^_^ Be a writer.
Mentari mulai menampakkan diri. Menyelesaikan sesuatu yang sempat tertunda. Tugas. Ya, tentunya itu, apalagi kalau tidak itu. Teruslah berjuang gapai impian. Inilah jalan hidup.
Aku terus jalani hariku. Matahari mulai meninggi, terdengar suara Handphone berdering. SMS dari Ketua FLP Pati. Alhamdulillah... Aku tak menyangka sebelumnya. Aku diminta untuk mengikuti acara Up Grading FLP Se-Jateng yang insya Allah akan dilaksanakan tanggal 7-8 Mei 2011 di Tegal. Bagaimana ya? Aku ingin ikut. Hanya saja, aku harus izin orang tua terlebih dahulu. Tentunya aku berharap agar diizinkan, ini adalah peluang. Semenjak beberapa hari yang lalu, semangat ini semakin menyelimuti diri. Semangat! ^_^ Be a writer.
Sunday, 1 May 2011
Shalawat dan Berdzikir untukmu, Semarang
oleh : Silvia Dyah Puspita Sari

Memperingati hari jadi Kota Semarang yang ke-464, pada hari Jumat (29/4) diadakan Tabligh Akbar di Balaikota Semarang. Ribuan orang dari berbagai penjuru menghadiri acara itu. Semangat jamaah Tabligh Akbar begitu tinggi. Tua muda, putra putri dari berbagai daerah ikut menyemarakkan acara itu. Sekitar jam 8 halaman Balaikota sudah sudah sarat oleh pendatang yang termasuk dalam banyak rombongan besar walaupun kondisi sedang hujan lebat. Hujan berhenti perlahan. Banyak bendera dari rombongan yang dikibarkan sampai-sampai pihak keamanan turun tangan untuk mengkondisikan. Tak hanya itu, jamaah berebut di posisi depan yang menjadikan adu mulut antar jamaah.
Tak terasa sejam berlalu begitu cepat, hujan masih turun. Sekitar jam 9 acara dibuka. Suara jamaah begitu menggelegar mendapati sosok yang ditunggu-tunggu, Habib Syekh. Dipimpin oleh Habib Syekh, jamaah melantunkan shalawat dan dzikir. Semangat peserta tetap membara walaupun berada di bawah rintikan air hujan. Itu karena lokasi di halaman terbuka. Jadi, semua yang ada di sana sama-sama merasakan nikmatnya air hujan sambil terus bershalawat. Setelah itu, dilanjutkan tausiyah oleh Habib Syekh, juga terlihat dan terdengar suara merdu dari Ustadz Jefri Al Bukhori yang menyempatkan hadir.
Semarang, 1 Mei 2011, 20:57
oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
Memperingati hari jadi Kota Semarang yang ke-464, pada hari Jumat (29/4) diadakan Tabligh Akbar di Balaikota Semarang. Ribuan orang dari berbagai penjuru menghadiri acara itu. Semangat jamaah Tabligh Akbar begitu tinggi. Tua muda, putra putri dari berbagai daerah ikut menyemarakkan acara itu. Sekitar jam 8 halaman Balaikota sudah sudah sarat oleh pendatang yang termasuk dalam banyak rombongan besar walaupun kondisi sedang hujan lebat. Hujan berhenti perlahan. Banyak bendera dari rombongan yang dikibarkan sampai-sampai pihak keamanan turun tangan untuk mengkondisikan. Tak hanya itu, jamaah berebut di posisi depan yang menjadikan adu mulut antar jamaah.
Tak terasa sejam berlalu begitu cepat, hujan masih turun. Sekitar jam 9 acara dibuka. Suara jamaah begitu menggelegar mendapati sosok yang ditunggu-tunggu, Habib Syekh. Dipimpin oleh Habib Syekh, jamaah melantunkan shalawat dan dzikir. Semangat peserta tetap membara walaupun berada di bawah rintikan air hujan. Itu karena lokasi di halaman terbuka. Jadi, semua yang ada di sana sama-sama merasakan nikmatnya air hujan sambil terus bershalawat. Setelah itu, dilanjutkan tausiyah oleh Habib Syekh, juga terlihat dan terdengar suara merdu dari Ustadz Jefri Al Bukhori yang menyempatkan hadir.
Semarang, 1 Mei 2011, 20:57
Kekuatan Impian
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
Setiap orang pasti punya impian. Termasuk saya. Akan tetapi, tidak semua impian dapat tercapai. Adakalanya sesuatu yang kita inginkan tidak kita dapatkan, tetapi tanpa kita sadari kita telah mendapatkan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan. Saya hanyalah orang biasa yang penuh dengan impian. Saya sangat tertarik dengan dunia kepenulisan dan karang mengarang sejak menjadi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Pati. Saat penjurusan, Alhamdulillah saya diterima di jurusan IPA yang menjadi impian bagi orangtua pada umumnya, tetapi bagi saya tidak. Saya lebih memilih jurusan BAHASA. Itu karena rasa cinta dan minat saya yang besar pada sastra dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Pilihan itu ditentang oleh ayah saya. Akan tetapi, lambat laun beliau mengerti. Impian saya serasa nyata. Saya bisa bergeliat dengan sastra, apalagi ketika kelas II saya bertemu dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang sangat asyik dan memotivasi saya untuk terus menulis. Saya banyak belajar puisi dari Pak Harianto, sedangkan Pak Bambang mengajarkan cerpen.
Sedikit demi sedikit saya berusaha mewujudkan impian saya. Mulai dari mengisi Mading Sekolah, mengisi berita di website Sekolah karena saya diberi amanah dalam Mading Bahasa Indonesia di OSIS 2006-2007. Selain itu, saya juga mengisi beberapa rubrik di Buletin Rohis di SMA 1 Pati. Akan tetapi, semua impian itu seperti sirna di telan bumi ketika dimulainya pendaftaran di perguruan tinggi. Berdasarkan pemikiran orangtua, saya diminta kuliah di UNNES, jurusan PGSD. Awalnya merasa berat hati. Lambat laun saya mencoba mengikhlaskan hati. Saya pun mulai memantapkan hati semenjak hari pertama mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Unnes (SPMU). Alhamdulillah saya diterima setelah melewati tes tertulis dan wawancara. Tak kuduga sebelumnya.
Perlahan saya mulai membangun impian saya lagi. Menulis tentunya. Apa saja yang bisa saya tulis, saya akan menulis, walaupun harus belajar dari awal, tak masalah. Yang penting semangat. Selalu ada kekuatan dalam menulis. Menulis untuk menggapai impian. Terlebih, sekarang guru dituntut untuk bisa menulis. Saya menjadi lebih termotivasi karena itu. It’s NOW or NEVER. Sudah saatnya kita melakukan perubahan pada diri kita. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi. Mari kita bangun negeri ini dengan berawal dari impian. Bermimpilah. Lalu, wujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Salam dahsyat untuk kita semua.
Semarang, 1 Mei 2011, 08:38
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
Setiap orang pasti punya impian. Termasuk saya. Akan tetapi, tidak semua impian dapat tercapai. Adakalanya sesuatu yang kita inginkan tidak kita dapatkan, tetapi tanpa kita sadari kita telah mendapatkan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan. Saya hanyalah orang biasa yang penuh dengan impian. Saya sangat tertarik dengan dunia kepenulisan dan karang mengarang sejak menjadi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Pati. Saat penjurusan, Alhamdulillah saya diterima di jurusan IPA yang menjadi impian bagi orangtua pada umumnya, tetapi bagi saya tidak. Saya lebih memilih jurusan BAHASA. Itu karena rasa cinta dan minat saya yang besar pada sastra dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Pilihan itu ditentang oleh ayah saya. Akan tetapi, lambat laun beliau mengerti. Impian saya serasa nyata. Saya bisa bergeliat dengan sastra, apalagi ketika kelas II saya bertemu dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang sangat asyik dan memotivasi saya untuk terus menulis. Saya banyak belajar puisi dari Pak Harianto, sedangkan Pak Bambang mengajarkan cerpen.
Sedikit demi sedikit saya berusaha mewujudkan impian saya. Mulai dari mengisi Mading Sekolah, mengisi berita di website Sekolah karena saya diberi amanah dalam Mading Bahasa Indonesia di OSIS 2006-2007. Selain itu, saya juga mengisi beberapa rubrik di Buletin Rohis di SMA 1 Pati. Akan tetapi, semua impian itu seperti sirna di telan bumi ketika dimulainya pendaftaran di perguruan tinggi. Berdasarkan pemikiran orangtua, saya diminta kuliah di UNNES, jurusan PGSD. Awalnya merasa berat hati. Lambat laun saya mencoba mengikhlaskan hati. Saya pun mulai memantapkan hati semenjak hari pertama mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Unnes (SPMU). Alhamdulillah saya diterima setelah melewati tes tertulis dan wawancara. Tak kuduga sebelumnya.
Perlahan saya mulai membangun impian saya lagi. Menulis tentunya. Apa saja yang bisa saya tulis, saya akan menulis, walaupun harus belajar dari awal, tak masalah. Yang penting semangat. Selalu ada kekuatan dalam menulis. Menulis untuk menggapai impian. Terlebih, sekarang guru dituntut untuk bisa menulis. Saya menjadi lebih termotivasi karena itu. It’s NOW or NEVER. Sudah saatnya kita melakukan perubahan pada diri kita. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi. Mari kita bangun negeri ini dengan berawal dari impian. Bermimpilah. Lalu, wujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Salam dahsyat untuk kita semua.
Semarang, 1 Mei 2011, 08:38
Tela Bakar Penggugah Rasa
Forum Lingkar Pena Cabang Pati
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
Temu latihan membahas karya atau yang biasa dikenal dengan Tela Bakar dilaksanakan oleh FLP Pati. Seperti biasa, setiap seminggu sekali selalu berganti tempat untuk sekedar ganti suasana dan tentunya sebagai sarana bersilaturahmi karena dilakukan secara bergantian di masing-masing rumah anggota FLP Pati. Pada hari Minggu ini (24/4) jam 09:30 WIB, Tela Bakar dilaksanakan di Desa Rejo Agung, Trangkil, tepatnya di rumah saudari Puji. Pertemuan ini dihadiri oleh 12 orang anggota. Pada pekan ini, ada dua naskah yaitu Berkah Membawa Derita karya Fuzie Langiet Jie Ngga dan Pengkhianatan Emansipasi karya Arfika Putri Pertiwi. Kedua naskah tersebut dibacakan secara bergantian untuk dilanjutkan proses pembedahan.
Ketika pembedahan naskah yang dimoderatori oleh saudara Gugun, suasana terasa semakin menggugah rasa para peserta Tela Bakar. Setiap komentar begitu membangun pengetahuan, tentunya semua itu perlu menjadi bahan kontemplasi bagi semua yang hadir. Ketua FLP Pati-M.Mubarok-juga ikut berperan aktif dalam menambahkan argumen sebagai penguat pendapat-pendapat yang ada. Setiap orang punya karakter dan ciri khas yang berbeda dari yang lain. Jadi, diskusi mengalir dengan segar layaknya air mengalir di sungai. Perlahan, tetapi pasti. Saudara Muklis yang cermat dalam diksi, tak kalah untuk memberikan masukan, terutama hal yang berkaitan dengan judul. Di samping itu, saudari Silvia juga ikut berperan memberikan komentar mengenai tata bahasa tanda baca. Tak hanya itu, saudara Ulin juga ikut menambahkan sesuai ciri khasnya yaitu tentang penggunaan majas dalam suatu cerita. Peserta yang lain pun saling member masukan berkenaan tentang kesesuaian tema, alur, penokohan, dan unsur-unsur yang lain. Acara yang berakhir sampai sekitar jam 1 siang ini bisa dijadikan sebagai ajang untuk penggugah rasa, terutama rasa kita dalam kepenulisan. Kejadian kecil dalam kehidupan sehari-hari bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Oleh karena itu, mari kita menulis. Menulis untuk membangun peradaban. Kita menulis, maka kita ada. Salam dahsyat untuk kita semua.
Meniti ilmu di kota atlas, 1 Mei 2011, 07:26
Forum Lingkar Pena Cabang Pati
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari
Temu latihan membahas karya atau yang biasa dikenal dengan Tela Bakar dilaksanakan oleh FLP Pati. Seperti biasa, setiap seminggu sekali selalu berganti tempat untuk sekedar ganti suasana dan tentunya sebagai sarana bersilaturahmi karena dilakukan secara bergantian di masing-masing rumah anggota FLP Pati. Pada hari Minggu ini (24/4) jam 09:30 WIB, Tela Bakar dilaksanakan di Desa Rejo Agung, Trangkil, tepatnya di rumah saudari Puji. Pertemuan ini dihadiri oleh 12 orang anggota. Pada pekan ini, ada dua naskah yaitu Berkah Membawa Derita karya Fuzie Langiet Jie Ngga dan Pengkhianatan Emansipasi karya Arfika Putri Pertiwi. Kedua naskah tersebut dibacakan secara bergantian untuk dilanjutkan proses pembedahan.
Ketika pembedahan naskah yang dimoderatori oleh saudara Gugun, suasana terasa semakin menggugah rasa para peserta Tela Bakar. Setiap komentar begitu membangun pengetahuan, tentunya semua itu perlu menjadi bahan kontemplasi bagi semua yang hadir. Ketua FLP Pati-M.Mubarok-juga ikut berperan aktif dalam menambahkan argumen sebagai penguat pendapat-pendapat yang ada. Setiap orang punya karakter dan ciri khas yang berbeda dari yang lain. Jadi, diskusi mengalir dengan segar layaknya air mengalir di sungai. Perlahan, tetapi pasti. Saudara Muklis yang cermat dalam diksi, tak kalah untuk memberikan masukan, terutama hal yang berkaitan dengan judul. Di samping itu, saudari Silvia juga ikut berperan memberikan komentar mengenai tata bahasa tanda baca. Tak hanya itu, saudara Ulin juga ikut menambahkan sesuai ciri khasnya yaitu tentang penggunaan majas dalam suatu cerita. Peserta yang lain pun saling member masukan berkenaan tentang kesesuaian tema, alur, penokohan, dan unsur-unsur yang lain. Acara yang berakhir sampai sekitar jam 1 siang ini bisa dijadikan sebagai ajang untuk penggugah rasa, terutama rasa kita dalam kepenulisan. Kejadian kecil dalam kehidupan sehari-hari bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Oleh karena itu, mari kita menulis. Menulis untuk membangun peradaban. Kita menulis, maka kita ada. Salam dahsyat untuk kita semua.
Meniti ilmu di kota atlas, 1 Mei 2011, 07:26
Subscribe to:
Comments (Atom)

