Thursday, 2 May 2013
Penantian yang Tertunda*
“Aku harus bisa!!!”, teriak gadis berambut panjang mengagetkan teman-temannya.
Semua mata yang sedang berada di ruangan yang tak begitu luas itu tertuju padanya dengan penuh tanda tanya. Namun, ia hanya tersenyum. Sunggingan di bibir mungilnya hanya menambah rasa penasaran oleh semua yang mengharap jawaban, terlebih Karti yang selalu ingin tahu.
Karti mengangkat alis kanannya ke atas dan memanyunkan bibirnya. Gadis yang berteriak tadi tak menghiraukan rasa penasaran teman-temannya. Biarlah. Pikir gadis itu dalam hati, lalu melangkahkan kaki menjauhi yang lain. Ia berjalan pelan menuju ruang terbuka di depan kamarnya. Matanya mengintai ke arah sekitar tempat ia berada. “Alhamdulillah sepi…”, katanya dengan riang.
Ia selalu mencari ketenangan dalam hidupnya. Penuh misteri dalam harinya. Itulah anggapan teman serumah tentang dirinya. Ya. Mereka adalah anak sekolahan yang hidup jauh dari orangtua demi menuntut ilmu. Mungkin itu juga yang kadang menjadi beban dalam hari-hari gadis itu. Selalu terdiam dalam pikiran, tak pernah ia menceritakan masalah pada orang lain kecuali pada seorang yang dituakannya, orang serumah yang begitu bijaksana baginya.
”Piah… Piah…”, terdengar suara yang tak asing baginya memanggil namanya dari kejauhan. Ia tak segera menjawab sampai asal suara tadi terdengar kembali dengan jelas di sebelahnya.
“Eh, iya… Ada apa?”, jawab gadis tadi dengan nada datar tanpa rasa bersalah.
“Hmmm…. Kamu ini!!! Dipanggil berkali-kali nggak menjawab, ngapain aja sih kamu tadi, Pi?”
Bukannya langsung menjawab pertanyaan Piah, tapi wajah gadis yang selalu ingin tahu ini malah terlihat begitu suram, perkataannya agak keras tak seperti biasaya, kedua tangannya ia genggamkan dengan kuat-kuat. Piah agak terkejut dan meringis melihat teman sekamarnya yang bersikap tak wajar ini.
“Maaf Kar… Ada apa…?”, tanya Piah hati-hati dengan memelankan nada bicaranya ketika menatap kedua mata teman sekamarnya.
Karti terdiam. Nafasnya masih kencang tak beraturan. Bagai seorang yang baru selesai lari marathon. Piah agak penasaran dibuatnya dan mencoba menenangkan perasaan temannya.
“Duduklah…”, pinta Piah seraya memohon pada Karti.
Karti langsung mengikuti permintaan teman baiknya untuk duduk. Dia pun menyandarkan kepala di bahu Piah. Airmatanya perlahan menetes, membasahi lengan baju Piah. Nafasnya masih tak beraturan. Sejenak suasana menjadi hening seperti di makam yang tiada suara sedikit pun. Hanya kicauan burung yang mengisi keheningan. Melihat Karti seperti itu, Piah tak tega, ia pun mulai memecahkan suasana, dengan hati-hati ia bertanya. Ternyata orangtua Karti menelponnya agar dia langsung menikah setelah lulus sekolah. “Menyenangkan sekali”, pikir Piah yang ingin segera bertemu jodohnya kemudian menikah. Hal itu malah membuat Karti sedih karena dia merasa belum siap.
“Terimakasih ya, Pi. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa lagi selain ke kamu, aku percaya padamu, jangan ceritakan ini kepada siapapun ya…”, ucap Karti memelas.
“Insya Allah…”, jawab Piah santai sambil menyibakkan senyum di bibirnya.
Mentari mulai bergerak menuju peraduannya, langit mulai berubah menjadi gelap. Kedua sahabat yang duduk di ruang terbuka seketika beranjak dari tempatnya menuju ruang yang penuh kenangan selama hampit tiga tahun lamanya.
Piah duduk di tempat belajarnya, mengulurkan tangan, menyibak buku demi buku di rangkaian kumpulan buku Islaminya yang direncanakan kelak akan dijadikan sebagai buku untuk perpustakaan pribadi. Sungguh keinginan yang begitu tak terbayangkan oleh teman seusianya. Ia pun mengambil buku tentang cinta dan pernikanan yang belum selesai dibacanya subuh tadi.
Baru tiga lembar ia membaca, suara muadzin dari masjid sebelah mengagetkan seriusnya ketika membaca. Ia pun menutup buku dan segera keluar mengambil air wudlu. Ia dan teman serumah antre ketika itu.
Rumah yang dihuni 21 orang termasuk pemiliknya itu terlihat ramai ketika waktu maghrib tiba. Berjamaah. Itulah kebiasaan di rumah atau pesantren binaan Bapak Kiai dari Pati itu. Mereka yang tinggal di rumah itu sangatlah merasa senang dan nyaman karena kesabaran Bapak Kiai dan kebaianhati Ibuk kepada mereka bak orang tua kandung yang mengayomi anak-anaknya.
Setelah berjamaah semua penghuni rumah tetap berada di Mushala kecil depan rumah itu untuk melantunkan syair cinta pada-Nya. Satu per satu menghadap Bapak Kiai untuk ngaji dan dibenarkan bacaannya kalau ada yang salah. Sekalian berjamaah shalat isya. Suasana seperti inilah yang bisa menjadi penyembuh penantian Piah. Penantian apakah itu? Penantian yang selalu membuat dia selalu merenung dan melamun di tempat yang jauh dari keramaian temannya.
“Piah, aku ke kamar dulu ya…”, sapa teman satu per satu meninggalkannya.
“Iya… Silakan…”, jawabnya ringan.
Piah selalu biasa, santai dengan sikap teman-temannya, tapi dia selalu banyak pikiran dan tidak sering bercerita. Dia pun memanfaatkan waktu seperti ini untuk menjernihkan pikirannya dan bercerita kepada Bapak Kiai tentang masalah yang kadang dihadapinya. Dia senang bisa cerita dan tentunya selalu mendapatkan solusi dari Bapak Kiai. Namun, kali ini berbeda. Ia diam saja sampai Bapak Kiai meninggalkan Mushala. Ia hanya tersenyum ketika Bapak Kiai mengajaknya.
Ini kali ia terdiam sendirian di Mushala. Air matanya perlahan membasahi pipinya. Kerongkongannya terasa kering. Sesak di dada mulai membuncah. Dia pun berucap seraya berdoa dengan suara terisak.
“Ya Allah… Yang Maha Pemberi… Berikanlah hamba-Mu ini jodoh yang terbaik… Jodoh yang bisa menjadi imam hamba… Ya Allah, Karti yang belum ingin menikah, sekarang sudah ada calon, lalu siapakah calon pendamping hidupku kelak??? Aku butuh pangeran hatiku Ya Allah… Pertemukanlah aku dengannya segera”.
***
“Kring… Kring… Kring…”, seperti biasa jam 03:00 WIB suara alarm Piah berbunyi meninggi.
Ia membuka mata perlahan, disapunya kedua ujung mata dengan jari tengahnya yang lentik itu. Ia menatap atap tempat ia terlelap tadi. Alhamdulillah… Ungkapnya dalam hati kemudian berdoa sebelum ia beranjak dari tempat tidur dan mematikan alarmnya.
Seperti yang sering ia lakukan, ia selalu mengambil air wudlu setelah bangun dari lelapnya. Ia pun shalat tahajjud di kamar yang masih tak ada bising sedikitpun. Usai shalat, ia tak kembali menikmati tidurnya lagi, tetapi ia melantunkan ayat-ayat suci sampai berlembar-lembar banyaknya kemudian tak lupa ia berdoa. Kemudian sampai subuh tiba, ia melanjutkan dengan mengkaji pelajaran untuk persiapan Ujian Nasional yang akan berlangsung 5 bulan lagi.
Suara kokokan ayam mulai terdengar bersahutan, fajar mulai menyingsing. Matahari mulai menampakkan diri dari arah timur. Penghuni rumah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, begitu pula dengan Piah. Inilah hari pertama di awal pekan, mereka harus segera ke sekolah untuk mengikuti rutinitas yang tak asing lagi di hari ini.
Upacara bendera dilaksanakan. Semua murid khidmad mengikuti, termasuk Karti yang berdiri di sebelah kiri Piah karena mereka adalah teman sekelas di jurusan Bahasa. Upacara selesai, semua murid memasuki kelas masing-masing.
“Pi, aku mau minta tolong kamu, boleh nggak?”, tanya Karti setelah sampai di depan kelas.
“Bilang aja, nggak usah malu-malu gitu lah”, jawab Piah sambil memegangi jilbab sebahunya yang tertiup angin.
Karti masih pikir panjang sebelum mengutarakan maksudnya kemudian mengajak Piah duduk di teras. Mereka terlihat serius ketika bercakap-cakap. Sampai akhirnya Karti meminta kepastian dari gadis yang duduk di sebelahnya itu.
“Bagaimana, Pi? Kalau bisa, aku akan mengabarinya saat ini juga. Nanti sepulang sekolah, aku akan menyuruhnya menunggu di taman sekolah. Aku akan menemani kalian…”
“Hmmm… Aku bingung”, ungkap Piah sambil menutupkan kedua tangan di wajahnya.
Dia berpikir agak lama sampai dikagetkan oleh satu kali bunyi bel pertanda mulainya jam pelajaran. Keduanya beranjak dari duduknya, Karti melihat ke arah Piah mengharap kesediaannya.
“Bolehlah…”, jawab Piah tiba-tiba mengagetkan sahabatnya.
Mendengar jawaban dari mulut gadis berbibir mungil itu, wajah Karti seperti terkena sinar matahari yang begitu terang.
Bel sekolah telah berbunyi sampi tiga kali pertanda waktu pulang, bagi kelas X dan XI tentunya karena kelas XII masih ada tambahan pelajaran. Kedua sahabat itu langsung berlari menuju Mushala untuk melaksanakan kewajibannya, kemudian berjalan pelan ke taman sekolah yang berada di depan dekat lapangan tennis.
Piah duduk di kursi taman dengan hati yang penuh dengan debaran dan tak pernah berhenti menggerakkan jemarinya, Karti hanya tersenyum melihat kegelisahan sahabatnya. Dua menit kemudian yang ditunggu-tunggu datang juga. Piah tak berani bergerak, sosok yang masih asing baginya mendekat. Mata keduanya bertatapan tanpa disengaja, lalu Piah pun agak menunduk, malu. Wajahnya memerah.
“Pi, kenalkan, ini saudaraku yang dari Kota Jenang itu”, jelas Karti datar dengan tersenyum.
“Perkenalkan, aku Heru, anak Kudus”.
“Salam kenal, aku Piah, anak Pati asli”.
Mereka pun berbicara seperti layaknya sahabat karib yang sudah lama tak bertemu, terlihat begitu akrab.
Karti melihat jam tangan yang dikenakannya, waktu menunjukkan jam 13.55 WIB. Dia pun bertuturkata, “Her, udahan dulu ya, sudah jam segini, kami ada tambahan jam, sebentar lagi masuk”.
Sebelum berpisah terdengar jelas di telinga Piah ketika Heru berkata, “Terimakasih, senang bisa mengenalmu”.
Piah hanya tersenyum.
Heru pergi, keduanya pun bergegas meninggalkan taman menuju kelas. Mereka berlari melewati aula, laboratorium bahasa, dan perpustakaan. Sampailah di pertigaan lorong kelas, mereka berbelok ke kanan menuju ruang kelas. Belum sampai di kelas, bel sudah berbunyi. Mereka menghentikan langkah lari kemudian berjalan melihat guru yang tengah berjalan pelan.
Ketika tambahan jam, Piah terlihat begitu ceria dari aura di wajahnya, bersinar, terlihat jelas bahwa hatinya sedang berbunga-bunga. Usai tambahan jam, seperti biasa Piah dan Karti menuju ke Parkiran, mengambil sepeda mininya. Ya. Setiap hari mereka mengayuh sepeda ke Sekolah tanpa rasa malu. Hanya mereka yang bersepeda ke Sekolah sedangkan yang lain sudah bersepeda motor.
Tiga hari sejak hari itu, handphone Piah berdering.
“Hah? Nomor baru? Hmmm… Siapa ya?”, ungkap Piah yang penuh tanda tanya dalam dirinya. Semula ia jarang mengangkat telepon dari nomor yang asing baginya, tapi kali ini? Ia begitu ragu untuk tak menghiraukan panggilan tersebut.
“Assalamualaikum…”, ucapnya pelan dan hatinya begitu tak karuan ketika mengangkat telepon dari nomor asing tadi.
Terdengar dari arah sana menjawab salamnya. Suara yang masih asing baginya, tapi ia merasa pernah mendengar suara seperti itu. Mereka pun bercakap-cakap sampai hampir satu jam lamanya. Ternyata, penelepon itu adalah orang yang pernah ditemuinya beberapa hari yang lalu di taman sekolah.
Hari berganti hari. Seminggu yang begitu cerah telah terlampaui secerah hati Piah ketika menerima telepon dari orang asing yang taka sing lagi di hatinya.
“Pi, senyam senyum terus, ada apa sih?”, tanya Karti dengan nada curiga menyadari perubahan teman sekamarnya.
“Oh, nggak apa-apa Kar… Emang salah ya kalau aku bahagia?”
Malam harinya, Piah kembali ditelepon oleh orang asing tadi, mereka bercakap-cakap lama seperti biasanya. Akan tetapi, mala mini begitu berbeda dari malam biasanya.
“De’ Piah, aku mau bilang sesuatu padamu, tapi jangan marah ya?”
“Iya Mas Heru, bilang saja, silakan… Insya Allah aku tidak akan marah Mas”, jawab Piah santai.
“De’, jujur, sejak aku bertemu kamu, perasaan ini menjadi tak menentu, hari-hariku menjadi hampa tanpa dirimu, aku ingin selalu bersamamu, aku ingin agar kau menjadi belahan hatiku…”, ungkap Heru panjang lebar kepada Piah yang hanya terdiam bagai disambar petir mendengar rangkaian kata manis dari bibir orang yang mulai masuk dalam hatinya.
“De’, maukah kau menjadi pacarku?”, tanya Heru kemudian.
Piah masih terdiam. Pacaran… Satu kata yang tak pernah ada dalam kamus hidupnya, kini ia mendengar itu dari seorang yang sudah menyentuh perasaannya. Dalam hati ia bertanya, “Apa yang harus aku katakan padanya?”.
“De’, kau mendengarku?”, suara Heru mengagetkan lamunnya.
“Iya Mas, aku dengar…”, kemudian dengan agak terpaksa ia berkata lagi, “Aku senang bisa mengenalmu, tapi maaf Mas, aku tidak bisa jadi pacarmu…”
Mendengar jawaban Piah, Heru agak terpukul.
“Ya sudah kalau itu keputusan ade’, tapi tolong dipikirkan lagi ya, aku tunggu kepastianmu seminggu lagi”.
Heru pun mengakhiri percakapan. Air mata Piah menetes perlahan. Tanpa disadari, sebenarnya ia begitu mencintai sosok yang masih asing baginya itu. Seminggu. Ucap Piah pada hatinya yang masih agak ragu dengan keputusannya barusan.
Hari demi hari telah berlalu, Piah tak pernah lagi menerima telepon dari orang yang dikasihinya. Dia menjalani harinya dengan kesepian yang melanda jiwa.
“Andai saja aku menerimanya…”, ucap Piah dengan penuh penyesalan.
“Menerima siapa maksudmu?”, tanya temannya yang selalu ingin tahu seketika mendengar ucapan Piah.
Piah hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sahabatnya. Mereka pun bercakap-cakap. Pagi ini terasa bersahabat. Mentari menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Semua penghuni pesantren binaan semangat menyambut hari ini kecuali seorang gadis yang terlihat menekuk mukanya tak bersemangat. Seminggu yang dijanjikan akan segera tiba. Besok adalah waktu untuk memberikan kepastian akan perasaannya. Gadis itu masih tampak kebingungan. Tangan kanannya memegang kening kemudian mengelus-elus pelan.
“Pi, aku jadi khawatir sama kamu. Seminggu ini kamu tampak aneh. Cerita dunk. Barangkali ada yang bisa aku bantu untuk meringankan beban pikiranmu”, ucap Karti perlahan dengan nada yang cukup keibuan itu.
Piah yang semula tak ingin bercerita, ini kali ia tak dapat menahan perasaannya. Ia pun menceritakan tentang kejadian demi kejadian yang ia alami semenjak ia bertemu Heru sampai Heru nembak dia.
“Hmmm… Ternyata Heru beneran serius sama kamu ya, aku kira dia cuma iseng ketika minta nomor teleponmu. Maaf karena aku nggak minta izin ke kamu dulu ketika berikan nomormu”, terang Karti panjang lebar pada gadis yang sedang dirundung nestapa itu.
Setelah merasa lega, seperti biasa mereka semangat pagi dengan mengayuh sepeda ke sekolah. Dalam perjalanan, Piah masih berpikir tentang hari esok yang akan dihadapinya. Dia masih bimbang akan keputusannya. Dia semakin teringat akan cintanya pada Heru. Pacaran… Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di pikirannya.
***
Seminggu telah berlalu, hari yang dijanjikan untuk memberikan keputusan telah tiba. Jantung Piah semakin berdegup kencang tak karuan. Fajar makin menyingsing. Waktu menunjukkan pukul 05:47 WIB. Handphone-nya berdering. Tangannya gemetar, hatinya tak karuan, keringat dingin mulai bercucuran. Dia memberanikan diri melihat nama di layar handphone-nya. Mas Heru.
Nama yang dinanti-nanti kini ada di layar handphone-nya, tetapi dia tak berani mengangkat panggilan itu. Dia memegangi kepala sambil memanyunkan bibirnya. Dua kali panggilan ia abaikan. Namun, sesaat kemudian berdering untuk ketiga kalinya. Ia pun mengangkat panggilan dan berucap salam dengan suara gemetar.
Dalam percakapan kali ini mereka sempat berdebat agak lama tentang prinsip hidup dan keinginan, terlebih oleh Piah sampai akhirnya Heru benar-benar tak sabar dan mengharapkan kepastian dari pujaan hatinya yang telah memenuhi ruang hatinya.
“Bagaimana de’ Piah… Aku tidak akan memaksakan perasaan ini, hanya satu yang aku pinta, jujurlah pada perasaanmu, jangan membohongi diri dan perasaanmu de’…”, pinta Heru penuh harap.
“Mas… Aku… Aku…”, ucap Piah terbata-bata dan gemetaran.
“De’, aku serius menyayangimu, aku ingin membahagiakanmu jika Allah mengizinkan… De’, maukah kau menjadi pacarku?”, kali ini Heru meminta dengan penuh ketegasan.
Piah terdiam sejenak kemudian berkata singkat dengan hati yang masih penuh dengan debaran, “Iya Mas… Aku mau…”
Di kejauhan sana wajah Heru tampak berseri-seri, dia seperti mendapatkan bulan yang selalu dinantinya. Kini ia bisa meraih bulan itu. Namun di sisi lain, di samping kebahagiaan itu, Piah merasa tak lega, tak tenang dengan keputusan yang baru saja diucapkannya. Pacaran… Satu kata yang tak pernah ada dalam kamus hidupnya, sekarang ia menjadi pelakunya.
Hari-hari Piah terasa penuh warna semenjak ia mengenal Heru, apalagi sejak ia jadian dengan Heru. Akan tetapi, ia selalu merasa menjadi orang yang paling bodoh ketika ia selesai melakukan tahajjud.
“Ya Allah… Ampuni aku kalau aku telah salah dalam mengambil keputusan… Apa yang harus aku lakukan???”, doa Piah dengan bercucuran airmata yang semakin membanjiri kedua pipinya.
Tak terasa sudah sebulan ia jadian dengan Heru. Dia mengenang hari demi hari yang telah ia lalui, terlalu banyak celaka yang ia alami. Minggu pertama ia terjatuh dari sepeda, hal yang tak pernah sekali pun ia alami sebelumnya sampai membuat sahabatnya kaget setengah mati. Minggu kedua, ia hampir tertabrak mobil ketika hendak menyeberang jalan depan sekolah. Sungguh hal begitu menakjubkan oleh teman-temannya. Piah yang terkenal sebagai seorang yang teliti dan berhati-hati dalam melangkah di hidupnya, ia malah terlihat ceroboh ketika itu. Sedangkan yang paling fatal adalah minggu ketiga dan keempat setelah ia jadian, nilai Try Out UAN-nya menurun.
“Apakah ini suatu kebetulan ataukah ini murka-Mu terhadapku ya Allah…..?”, tanya Piah dalam hati ketika mentari mulai menampakkan cahyanya.
Mempunyai pasangan hidup. Itulah yang menjadi penantian Piah selama ini. Akan tetapi, ia tak menyangka akan menempuhnya dengan berpacaran. “Hmmm….”, ia menghela nafas panjang. Ia merasa bahwa ia telah berdosa.
Sejak saat itu Piah tak lagi menghiraukan telepon dari Heru, ia pun sebisa mungkin menghindar ketika Heru berkunjung ke rumah yang ia tempati. Bapak Kiai sampai geleng kepala melihat tingkah anak didiknya itu. Sebulan berlalu, tak pernah ada komunikasi diantara keduanya. Karena itu, Piah merasa bahwa dirinya benar-benar kelewatan. Seharusnya hubungan itu tak pernah terjadi. Seharusnya dia tak perlu menuruti hawa nafsunya untuk menjalin ikatan yang tak seharusnya ia lakukan. Ia juga merasa bersalah karena tak memberi kabar atau penjelasan kepada pacarnya atas sikapnya selama ini.
Dia pun mengambil handphone kemudian mencari nama yang hendak dihubunginya. Mas Heru. Nama yang begitu dianggapnya sakral sejak hari jadian mereka. Tut…tut…tut… Tak ada jawaban. Ia mencoba memanggil kembali. Kali ini ada ucapan salam dari arah sana, Piah menjawab salam dengan lembut seperti biasa.
“De’ Piah Sayang…, bagaimana kabarmu? Mas begitu merindukanmu Sayang… Kenapa ade’ tak pernah mengangkat telepon dari Mas? Kenapa tak pernah ada kabar darimu, ade’? Apakah Mas punya salah pada ade’? Tolong jangan mendiamkan Mas seperti ini… Mas mencintaimu, ade’ku sayang…”, ungkap Heru panjang lebar.
Pertanyaan berantai itu semakin membuat Piah jengkel dan ingin marah. Apalagi panggilan “Sayang” yang semakin membuat risih telinganya. Namun, Piah mengurungkan niatnya untuk marah ketika ia ingat kembali tujuan ia menghubungi pacar kesayangannya itu.
“Maafkan ade’ ya Mas… Maaf kalau selama kita kenal, ade’ terlalu banyak melakukan salah baik yang ade’ sengaja ataupun tidak… Terima kasih atas semua kebaikan yang Mas berikan pada ade’ ya…”, Piah berkata dengan hati-hati.
Sejenak keduanya terdiam. Heru makin bingung dengan kata-kata pujaan hatinya. Karena itu, Heru minta penjelasan atas ucapan Piah. Mereka pun bicara dengan lembut seperti biasa. Sampai akhirnya, Piah mengutarakan tujuannya telepon kali ini.
“Mas, sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita ini ya… Maaf, ade’ nggak bisa jadi pacar Mas lagi… Kita berteman saja ya Mas… Mungkin ini yang terbaik bagi kita mulai saat ini. Terima kasih…”, ucap Piah dengan suara yang mulai parau itu.
“Baiklah kalau itu permintaan ade’, Mas terima… Mulai hari ini kita berteman., tapi perlu ade’ ketahui, Mas akan tetap sayang pada ade’, Mas nggak akan pernah melupakan ade’, maaf juga kalau Mas banyak salah pada ade’ ya…”, balas Heru penuh kekecewaan.
Semenjak saat itu, keduanya tak pernah berkomunikasi. Ujian Nasional tinggal hitungan hari, 57 hari lagi. Piah masih bermuran durja, jarang bicara, menutup diri dalam kesepiannya. Sahabatnya tak tega melihat Piah seperti itu. Pada malam hari yang begitu sunyi, hanya rintik hujan yang terdengar di telinga. Kali ini Piah bercerita pada sahabatnya lagi setelah lama tak pernah membuka hati.
“Ya Allah… Kenapa harus seperti itu Piah? Kenapa tak pernah kau bercerita padaku? Kalau sudah begini, ya mau gimana lagi… Kamu yang sabar ya… Piah yang kukenal bukanlah Piah yang seperti ini. Kembalilah pada hidupmu, tujuan hidupmu, lakukan target hidup yang telah kau tulis rapi itu! Kau harus semangat Sobat!”, ucap Karti dengan penuh semangat ketika menunjuk Mading kecil di kamar mereka yang bertuliskan target hidup Piah.
Airmata Piah mulai membanjiri kedua pipinya. Berkali-kali ia beristighfar. Tak terhitung berapa banyaknya. Ia pun berkata kemudian dengak terisak, “Apakah penantianku selama ini belum cukup? Dia yang aku kira jodohku… Apakah penantianku akan tertunda setelah ini? Tapi sampai kapan…?”
“Sudahlah… Jangan dipikirkan dulu. Masih ada hari esok. Insya Allah hari esok lebih baik dari hari ini. Allah pasti akan berikan jodoh terbaik buatmu”, hibur Karti sambil mengelus-elus bahu Piah. Keduanya mengamini doa Karti.
Seketika senyum manis Piah mulai terlihat lagi. Bibir mungilnya mulai tampak, wajahnya pun terlihat bersinar. Bara semangat di matanya mulai terlukiskan lagi. Penantian yang tertunda ini tak boleh mengakhiri perjuangan hidupnya selama ini. Dia sadar akan kebesaran-Nya. Suatu saat ia pasti akan bertemu dengan pangeran hatinya yang mungkin saat ini masih dalam bayang hidupnya.
***
Pati, 17 Februari 2010, 15:29 WIB
Silvia Dyah Puspita Sari
Penantian yang Tertunda* telah diterbitkan dalam buku antologi cerpen berjudul “Sekolah Kolong Langit”, Maret 2011.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment