Mengakui Eksistensi Guru
oleh Silvia Dyah Puspita Sari
Menjadi guru bukanlah suatu hal yang memalukan. Hanya saja bagi mereka yang lebih menginginkan eksistensi diri, hal tersebut bisa menjadi permasalahan tersendiri. Dalam benak mereka tak terpikirkan mengenai keadaan pendidikan di pelosok daerah. Lingkungan yang begitu membutuhkan pendidikan yang berkualitas.
Mereka tak berminat menjadi guru hanya karena malu. Profesi sebagai “seorang tanpa tanda jasa”. Itu yang kerap terlontar oleh mereka tanpa menginterpretasikan maksud dari setiap kata yang didapat. Masalah malu menjadi guru tak perlu dipersoalkan. Hanya jiwa sosok guru ataupun calon guru yang profesional yang mampu menangkis perasaan itu.
Bahkan kalau kita tilik lebih dalam, menjadi guru malah akan menjadi proses eksis bagi kita, generasi penerus bangsa. Jadi, tak perlu malu. Dengan menjadi guru, kita bisa memperbaiki sistem pendidikan yang ada dan melakukan inovasi dalam pembelajaran. Masalah gaji pun tak perlu jadi bahan pikiran. Tentunya kalau kita benar-benar menjalankan profesi guru sebaik mungkin. Tak akan kekurangan. Apalagi dengan adanya sertifikasi guru. Hal itu bisa menjadi motivator tersendiri. Akan tetapi, jangan menyalahartikan gaji yang didapat dari sertifikasi. Gaji itu untuk perbaikan pendidikan, bukan perbaikan kekayaan. Insya Allah masalah kehidupan akan ada gantinya apabila kita tetap menekuni profesi kita yang sedang kita jalani.
Selamat berjuang tuk gapai impian. Mari kita, mahasiswa UNNES jurusan PGSD, mengakui eksistensi diri kita. Asal kita yakin bisa pasti bisa. Sebagai calon generasi pendidik, mari kita ciptakan pendidikan yang berkualitas. PGSD? Jaya!
Ditulis di kamar kos saat terdiam penuh harap dan rindu yang semakin berpaut padanya. Ngaliyan Semarang, 24 Mei 2011, 23:42 WIB.
Thursday, 23 June 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment