Cinta di Batas Waktu
Hidup berteman sepi dan harapan. Aku tahu bahwa Tuhan selalu bersamaku dalam setiap suka maupun duka. Ketika sujud aku bisa melepas rinduku. Aku pun sempat mengeluh akan cintaku yang hanya bisa di batas waktu. Bulan kesebelas yang penuh debaran. Perjalanan pulang dari Bali, aku menikmati indahnya pemandangan dan merasakan desiran angin di pagi hari. Indahnya alam ini menjadikan rinduku semakin berpaut karena rasa cinta ini hanya di batas waktu. Kau di sana, sedangkan aku di sini berteman sepi.
HP-ku berdering. Nama yang tak asing di hatiku.
“Halo,” kataku seketika saat menjawab panggilan di HP-ku.
“Kamu sudah pulang ya, Heni?” tanyanya padaku.
“Iya, Roni.” Aku hanya menjawab singkat sambil memanyunkan bibirku.
Kami bercakap-cakap tak sebentar, tapi aku hanya singkat dalam berkata. Merasa bosan dengan keadaan diantara kami. Selama liburan di Bali aku ingin merasakan keceriaan sebelum aku memasuki ruangan kelas yang baru, yaitu kelas 3 SMA. Keinginanku kacau karena gossip yang tak jelas tentang seseorang yang aku cintai. Keluargaku dan keluarga Roni telah menjodohkan kami.
“Huh! Kenapa harus dengan kamu sih Mas?” ucapku berontak karena ingat sikapnya yang selalu acuh padaku.
“Maafkan aku….” Jawabnya selalu begitu.
Aku pun menutup teleponnya. Air mataku menetes. Keceriaan yang aku dapatkan hanya beberapa saat setelah kesepakatan diantara keluarga kami.
“Aku masih duduk di kelas 2 SMA, tetapi dia sudah kuliah dan sudah tingkat dua. Apakah aku bisa percaya pada cintanya?” ucapku tiba-tiba dengan nada sesenggukan.
Teman di sebelahku menepuk-nepuk pundakku.
“Sabar ya, Heni?” kata temanku menenangkan suasana hatiku.
Aku kembali dalam lamunanku. Jarak diantara kami begitu jauh. Semula aku merasakan hal yang biasa saja dengan dirinya. Akan tetapi, lambat laun perasaan cinta ini mulai tumbuh di hati. Hanya saja, sesuai keyakinanku, kami tak pernah pergi berdua, kami tetap menjaga diri. Awalnya dia sering main ke rumahku setiap kali dia pulang ke rumah. Akan tetapi, sudah dua bulan ini dia tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Hatiku mulai resah dibuatnya. Aku tetap berpikir dalam diamku di dalam bus pariwisata ini. Perjalanan yang cukup lama dan membosankan karena teringat dirinya. Roni. Satu nama yang telah berhasil mengusik hati.
“Hai Heni, belum tidur? Perjalanan masih lama.” Kata seorang teman laki-laki yang seketika itu berdiri di sebelah kursiku.
“Belum, Dodi. Aku bingung, besok orang tuaku tidak bisa menjemputku di sekolah. Aku tidak tahu akan pulang naik apa.” Jawabku dengan raut wajah memelas.
“Wah, kasihan sekali gadisku sayang….” Celetuknya membuat risih telingaku karena dia memanggilku seperti itu.
Aku langsung memalingkan wajah berpura-pura tidak mendengar.
“Hen, maaf maaf, bagaimana kalau besok aku yang akan mengantarkanmu pulang? Aku tidak tega membiarkan gadis yang aku sayangi jalan sendirian.” Jawabku sambil melihat tajam ke arah kedua bola mataku.
Tatapannya membuat dadaku berdebar kencang tak karuan. Kata-katanya membuat hatiku luluh dan aku pun mengiyakan ajakannya. Dia kembali ke tempat duduknya yang tak jauh dari kursiku dengan senyuman penuh kemenangan.
Aku tak terasa mulai terlelap dalam tidur di atas kursi yang sedikit aku sandarkan ke belakang. Beberapa waktu berlalu, bus sudah sampai di kota Atlas dan memasuki halaman sekolah. Aku dan teman-teman turun dari bus masing-masing dan mengambil barang di bagasi.
Pagi yang terasa sunyi. Sambil membawa tas punggung dan koper yang tak ringan itu aku mencoba melangkahkan kakiku. Hati ini merindukannya, seseorang yang telah menggetarkan hatiku. Detak jantungnya terasa dekat dalam debaran hatiku di kala aku merasa batin ini terselimuti oleh rasa rindu yang mencekam jiwa. Diantara keramaian dan sunyinya hati, aku menerima SMS darinya, mengabarkan kedatangannya, “Aku datang. Tunggu ya.” Kata yang aku terima. Harapan ini muncul kembali setelah tak melihatnya selama dua bulan.
“Roni akan datang? Tapi kapan? Aku benci menunggu terlalu lama.” Ucapku pada diri sendiri dengan meremas-remas genggaman tangan.
Beberapa saat kemudian, ada suara yang memanggilku dari belakang, “Heni!”
Aku menoleh, tentunya tak lain adalah Dodi, teman sekelas yang sudah lama bilang suka padaku, tetapi aku tak mau berpacaran, karena itu bukan diriku. Aku masih berdiri dengan hati yang berdebar menunggu saat-saat Roni berkunjung ke rumahku lagi. Dalam hati aku berucap, “Seandainya saja Mas Roni yang mengajakku, menjemputku, dia yang ada di depanku, bukan Dodi.”
“Heni, jadi pulang bersamaku kan?” Tanya Dodi dengan semangat.
Aku masih terdiam. Aku tak ingin mengkhianati perasaan ini. Akan tetapi, aku harus pulang.
“Aku….” Kalimatku menggantung. Dodi langsung menarik tangan kananku.
Aku mencoba melepaskan tanganku, tapi aku kesulitan karena genggamannya terasa kuat.
“Dodi, lepaskan!” teriakku.
“Sudahlah, Heni. Tidak usah malu-malu padaku. Aku serius sayang kamu, kamu juga kan? Jadi, pulang saja bersamaku.” Terangnya panjang lebar.
“Lepaskan!” ucapku tegas.
Dia segera melepaskan genggamannya.
“Maaf, lebih baik aku jalan kaki daripada pulang bersamamu dengan ajakan paksa seperti ini. Aku menghormatimu hanya sebagai teman. Besok kita sudah masuk menjadi siswa kelas 3 SMA, lebih baik kita memikirkan sekolah kita saja. Maafkan aku….” Jawabku dengan panjang lebar pula dengan tegas.
“Dia akan pulang bersamaku. Tenang saja.” Suara yang tak asing itu terdengar dari belakangku.
Aku segera memalingkan badanku ke sumber suara tadi.
“Mas Roni?” ucapku dengan mulut ternganga lebar seakan tidak percaya akan kehadirannya di depan mataku.
Dia menghampiriku dan berucap salam pada Dodi. Mereka berjabat tangan lalu Roni berpamitan, “Permisi.”
“Ayo kita pulang, Heni.” Roni mengajakku. Seperti biasa dia masih tetap saja acuh padaku, dia berjalan sendiri di depan dan membiarkan aku berjalan mengikutinya. Kata demi kata telah terucap, hati ini semakin berdebar. Mungkin memang belum saatnya untuk memadukan cinta diantara kami.
Hanya saja, aku merasa bosan dan jengkel dengan sikapnya yang seperti itu. Cinta di batas waktu yang memisahkan rasa cinta diantara kami. Akan tetapi, rasa cinta kepada Tuhan tetaplah ada. Hanya kepada-Nya semua akan kembali. Perjalana menuju rumahku bersamanya terasa sunyi. Sesampainya di rumah, ia langsung menemui kedua orang tuaku. Aku masih duduk di teras berharap ia menyapaku sebelum ia pulang. Beberapa saat kemudian, ia keluar dan melihatku. Ia tersenyum dan menyerahkan bingkisan kotak kecil sambil berucap, “Maaf, kemarin di telepon”.
“Iya Mas, tidak apa-apa. Apa ini? Terima kasih ya. Mas Roni, ini oleh-oleh untuk kamu, Ayah, dan Ibu.” Jawabku.
“Terima kasih.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.
Aku pun hanya bisa berdoa akan cinta yang ada di hatiku. Harapan di tahun yang akan datang semoga cinta bisa berlabuh. Hanya doa dan doa kepada-Nya. Seiring berlalunya waktu, hati ini terasa sangat merindukannya.
Semarang, 10 September 2011
Silvia Dyah Puspita Sari
Thursday, 17 November 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment