Friday, 18 November 2011

Kemah Pramuka Bakti Merapi
oleh : Silvia Dyah Puspita Sari

Kemah Pramuka Bakti Merapi (KPBM) 2011 diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pramuka Racana Wijaya Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 3-5 Juni 2011 di Desa Kalibening Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Peserta KPBM berjumlah 130 mahasiswa dari semua Fakultas di Unnes, dibagi menjadi beberapa tim. Salah satunya adalah tim Psiko Edukatif, merupakan mahasiswa dari berbagai jurusan di Fakultas Ilmu Pendidikan.
KPBM yang memiliki motto “tiga hari dua malam satu hati untuk Merapi” ini dibuka langsung oleh Rektor Unnes, Sudijono Sastroatmodjo pada hari Jumat (3/6) dengan ditandai pemukulan kentongan saat upacara pembukaan. Setelah upacara selesai, dilanjutkan penanaman pohon oleh Rektor. Bibit pohon yang dipilih untuk penanaman dalam rangka konservasi adalah bibit pohon sengon dan bibit jabon yaitu jati kebon. “Buah tidak bisa tahan lama, tanaman bisa tahan lama,” kata Rektor saat diwawancarai siang itu.

Siangnya diadakan latihan gabungan kepada siswa SD setempat. Sorenya, mahasiswa dari tim tonnis membuat pembuatan lapangan tonnis yang bertujuan agar masyarakat bisa ikut menikmati permainan tonnis, salah satu permainan baru yang diciptakan oleh Unnes. Harapannya melalui tonnis dapat membuat anak-anak dan warga riang. Trauma pasca erupsi yang dialami oleh anak-anak dan warga tak mungkin bisa langsung hilang begitu saja. Akan tetapi, hal tersebut bisa diupayakan dengan mengalihkan perhatian mereka pada hal lain yang sekiranya lebih bermanfaat. Salah satunya dengan permainan tonnis bisa sebagai sarana untuk mengalihkan perhatian.
Malam harinya, diadakan kediatan Psiko Edukatif kepada masyarakat. Melalui permainan, pelatihan dan kegiatan bertujuan untuk mengembalikan motivasi masyarakat. Rasa percaya diri juga diharapkan bisa kembali pada diri setiap warga yang pernah mengalami situasi saat meletusnya Gunung Merapi yang tak jauh dari lokasi.
Pada hari kedua (4/6), dilaksanakan Psiko Edukatif di TK Kanisius, SD Kanisius, dan MI Muhammadiyah di Kecamatan Dukun untuk menumbuhkan motivasi dan percaya diri. Pada kegiatan Psiko Edukatif di SD Kanisius, setelah kegiatan di kelas dilanjutkan permainan di lapangan diantaranya permainan Bola Telur Naga, Pinhol, Crazy Balls, dan Water Volly. Pada waktu yang bersamaan juga diadakan Pemberdayaan taman bacaan dan permainan tonnis di lingkungan desa Kalibening. Siangnya diadakan kegiatan Trauma Healing bagi guru-guru SD/MI di Ruangan kelas MTs Muhammadiyah Kecamatan Dukun. Malam harinya diadakan pentas seni yang melibatkan warga dengan tujuan untuk mengakrabkan diri.

Pada hari ketiga (5/6) yang merupakan hari terakhir KPBM, peserta bersama warga melaksanakan kegiatan konservasi berupa penanaman pohon dan bakti lingkungan di desa tersebut secara. Peserta KPBM melakukan bersih jalan dan rerumputan yang mengotori lingkungan. Pada saat yang bersamaan juga diadakan lomba pesta siaga di lingkungan perkemahan. Setelah istirahat sejenak, akhirnya KPBM ditutup pada siang itu melalui upacara penutupan yang ditandai dengan pemukulan kentongan.



Semarang, 6 Juni 2011, 17:17 WIB
Silvia Dyah Puspita Sari
Pengejawantahan Nilai Pancasila

Pancasila merupakan suatu yang patut dilestarikan walaupun mata kuliah Pancasila sudah tidak diajarkan. Pada kehidupan sehari-hari, kita sebagai generasi penerus bangsa perlu sesekali berkontemplasi akan arti pentingnya pancasila dalam kehidupan ini. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat kita aktualisasikan dalam dunia nyata yang masih membutuhkan sentuhan tangan kita.
Tentunya pancasila penting untuk menjadikan kita sebagai bangsa yang berdedikasi tinggi dengan adanya nilai dan moral yang sesuai dengan pancasila. Kelima sila yang terkandung di dalamnya mempunyai makna yang dalam apabila kita berupaya untuk mencermati secara mendalam.
Di samping itu, kita perlu melatih diri agar tetap bisa mengejawantahkan nilai-nilai yang terkandung tersebut. Hal tersebut akan menjadi pondasi dalam bersikap dan berbuat.

Semarang, 25 Mei 2011, 12:05 WIB
Silvia Dyah Puspita Sari
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Semarang

Thursday, 17 November 2011

Angggunnya Jilbabmu
oleh : Silvia Dyah Puspita Sari

Pesona indah paras seorang wanita. Makhluk Allah SWT yang diberikan sifat keibuan, kelembutan di sunia yang fana ini. Kecantikan yang dimiliki mengundang minat sesama untuk saling memandang. Betapa nikmat dunia dengan adanya wanita-wanita. Kecantikan itu akan lebih sempurna dalam Islam dengan dipakaikannya jilbab yang akan menutupi rambut wanita. Karena rambut wanita seakan mahkota bagi mereka. Sosok wanita di dunia ini bermacam-macam adanya. Tak jarang ditemukan wanita tapi tak seperti wanita karena sifatnya yang terlihat tomboi, hampir berperilaku dan berpenampilan seperti laki-laki. Bahkan, ada juga yang memang ingin bergaul dengan nyaman laki-laki sampai-sampai bertindak seakan dia laki-laki.
Oleh karena itu, ada beberapa pihak yang mulai membuka diri untuk merubah penampilannya. Tak sedikit mulai mengenakan jilbab. Mereka terlihat lebih anggun ketika memakai jilbab yang menutupi rambutnya. Terasa terpancarkan pesona kewanitaannya. Masih banyak hal yang terlihat dari berbagai wanita. Hal itu pula yang menjadikan wanita yang berjilbab terasa beda dari wanita-wanita yang lain. Aura yang mereka miliki lebih mengena dalam pandangan bagi siapapun yang memandang saat itu juga.
Di dalam kehidupan sehari-hari, jilbab begitu banyak diminati khalayak ramai, salah satu motif untuk merubah diri menjadi lebih baik. Tak heran jika banyak yang memburu meskipun banyak perbedaan tujuan dari berjilaba. Banyak wanita yang menyampaikan bahwa dengan berjilbab membuat mereka lebih anggun dan terasa terlindungi. Hal itu dikarenakan adnya perbedaan perlakuan dari laki-laki yang usil dan iseng di jalan. Kebanyakan dari laki-laki yang usil terkesan lebih menghormati wanita yang berjilbab daripada yang berpakaian seksi dan tanpa berjilbab. Mereka yang berjilbab diganggu dengan ucapan salam, sedangkan mereka ynag tidak berjilbab diganggu dengan godaan kata-kata dan siulan. Perbedaan perlakuan itu dirasakan oleh wanita. Dengan berjilbab, mereka merasa lebih terlindungi dari kejadian yang tentunya tak diinginkanya.
Wanita yang berjilbab tentunya wanita yang mengerti tentang islam karena perintah untuk berjilbab juga dijelaskan di dalam Al Quran. Wanita akan berusaha menjaga diri dalam bersikap terlebih mereka yang berjilbab, seolah jilbab sebagai kontrol mereka dalam berbuat sesuatu. Jilbablah yang membuat mereka terlihat menjadi sosok yang anggun dengan mengenakan jilbab itu. Segala sikap yang hendak dilakukan pasti dipikirkan terlebih dahulu. Keanggunan wanita berjilbab seperti menjadi tolak ukur dalam segala tindakan. Mereka menjaga diri dengan hal-hal yang kurang berkenan.
Senantiasa wanita bangga dengan jilbabnya. Jilbab tak hanya berfungsi sebagai penutup kepala saat panas, jilbab tak hanya digunakan sebagai ajang fashion, jilbab tak hanya untuk mengikuti zaman, tapi lebih kepada keistimewaan jilbab untuk keanggunan seorang wanita yang berjilbab. Akhlak dan perbuatan bisa tercermin dari jilbab yang dia kenakan. Karena, dengan jilbablah mereka bisa mengontrol diri dalam berbuat sesuatu. Fungsi kontrol itulah yang acapkali menjadi titik temu dari sekian banyak perdebatan yang ada. Oleh karena itu, kontrol dari masing-masing wanita sangat diperlukan. Tentunya dengan berjilbab.
Kejadian seperti itu akan tampak di dalam kehidupan sehari-hari. Wanita dan jilbab. Adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Kontras. Keanggunan wanita itulah yang selalu ada dalam pancaran wajah dan penampilannya. Satu hal yang pasti ialah wanita akan terlihat anggun jikalau ia berjilbab. Tak hanya berjilbab secara lahiriah, tetapi berjilbab secara batiniah. Mereka bisa menjilbabi hati mereka. Anggunnya jilbabmu wahai wanita. Tegakkan citra wanita islam dengan santun perilakumu.


Semarang, 2 Mei 2011
Silvia Dyah Puspita sari
Cinta di Batas Waktu

Hidup berteman sepi dan harapan. Aku tahu bahwa Tuhan selalu bersamaku dalam setiap suka maupun duka. Ketika sujud aku bisa melepas rinduku. Aku pun sempat mengeluh akan cintaku yang hanya bisa di batas waktu. Bulan kesebelas yang penuh debaran. Perjalanan pulang dari Bali, aku menikmati indahnya pemandangan dan merasakan desiran angin di pagi hari. Indahnya alam ini menjadikan rinduku semakin berpaut karena rasa cinta ini hanya di batas waktu. Kau di sana, sedangkan aku di sini berteman sepi.
HP-ku berdering. Nama yang tak asing di hatiku.
“Halo,” kataku seketika saat menjawab panggilan di HP-ku.
“Kamu sudah pulang ya, Heni?” tanyanya padaku.
“Iya, Roni.” Aku hanya menjawab singkat sambil memanyunkan bibirku.
Kami bercakap-cakap tak sebentar, tapi aku hanya singkat dalam berkata. Merasa bosan dengan keadaan diantara kami. Selama liburan di Bali aku ingin merasakan keceriaan sebelum aku memasuki ruangan kelas yang baru, yaitu kelas 3 SMA. Keinginanku kacau karena gossip yang tak jelas tentang seseorang yang aku cintai. Keluargaku dan keluarga Roni telah menjodohkan kami.
“Huh! Kenapa harus dengan kamu sih Mas?” ucapku berontak karena ingat sikapnya yang selalu acuh padaku.
“Maafkan aku….” Jawabnya selalu begitu.
Aku pun menutup teleponnya. Air mataku menetes. Keceriaan yang aku dapatkan hanya beberapa saat setelah kesepakatan diantara keluarga kami.
“Aku masih duduk di kelas 2 SMA, tetapi dia sudah kuliah dan sudah tingkat dua. Apakah aku bisa percaya pada cintanya?” ucapku tiba-tiba dengan nada sesenggukan.
Teman di sebelahku menepuk-nepuk pundakku.
“Sabar ya, Heni?” kata temanku menenangkan suasana hatiku.
Aku kembali dalam lamunanku. Jarak diantara kami begitu jauh. Semula aku merasakan hal yang biasa saja dengan dirinya. Akan tetapi, lambat laun perasaan cinta ini mulai tumbuh di hati. Hanya saja, sesuai keyakinanku, kami tak pernah pergi berdua, kami tetap menjaga diri. Awalnya dia sering main ke rumahku setiap kali dia pulang ke rumah. Akan tetapi, sudah dua bulan ini dia tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Hatiku mulai resah dibuatnya. Aku tetap berpikir dalam diamku di dalam bus pariwisata ini. Perjalanan yang cukup lama dan membosankan karena teringat dirinya. Roni. Satu nama yang telah berhasil mengusik hati.
“Hai Heni, belum tidur? Perjalanan masih lama.” Kata seorang teman laki-laki yang seketika itu berdiri di sebelah kursiku.
“Belum, Dodi. Aku bingung, besok orang tuaku tidak bisa menjemputku di sekolah. Aku tidak tahu akan pulang naik apa.” Jawabku dengan raut wajah memelas.
“Wah, kasihan sekali gadisku sayang….” Celetuknya membuat risih telingaku karena dia memanggilku seperti itu.
Aku langsung memalingkan wajah berpura-pura tidak mendengar.
“Hen, maaf maaf, bagaimana kalau besok aku yang akan mengantarkanmu pulang? Aku tidak tega membiarkan gadis yang aku sayangi jalan sendirian.” Jawabku sambil melihat tajam ke arah kedua bola mataku.
Tatapannya membuat dadaku berdebar kencang tak karuan. Kata-katanya membuat hatiku luluh dan aku pun mengiyakan ajakannya. Dia kembali ke tempat duduknya yang tak jauh dari kursiku dengan senyuman penuh kemenangan.
Aku tak terasa mulai terlelap dalam tidur di atas kursi yang sedikit aku sandarkan ke belakang. Beberapa waktu berlalu, bus sudah sampai di kota Atlas dan memasuki halaman sekolah. Aku dan teman-teman turun dari bus masing-masing dan mengambil barang di bagasi.
Pagi yang terasa sunyi. Sambil membawa tas punggung dan koper yang tak ringan itu aku mencoba melangkahkan kakiku. Hati ini merindukannya, seseorang yang telah menggetarkan hatiku. Detak jantungnya terasa dekat dalam debaran hatiku di kala aku merasa batin ini terselimuti oleh rasa rindu yang mencekam jiwa. Diantara keramaian dan sunyinya hati, aku menerima SMS darinya, mengabarkan kedatangannya, “Aku datang. Tunggu ya.” Kata yang aku terima. Harapan ini muncul kembali setelah tak melihatnya selama dua bulan.
“Roni akan datang? Tapi kapan? Aku benci menunggu terlalu lama.” Ucapku pada diri sendiri dengan meremas-remas genggaman tangan.
Beberapa saat kemudian, ada suara yang memanggilku dari belakang, “Heni!”
Aku menoleh, tentunya tak lain adalah Dodi, teman sekelas yang sudah lama bilang suka padaku, tetapi aku tak mau berpacaran, karena itu bukan diriku. Aku masih berdiri dengan hati yang berdebar menunggu saat-saat Roni berkunjung ke rumahku lagi. Dalam hati aku berucap, “Seandainya saja Mas Roni yang mengajakku, menjemputku, dia yang ada di depanku, bukan Dodi.”
“Heni, jadi pulang bersamaku kan?” Tanya Dodi dengan semangat.
Aku masih terdiam. Aku tak ingin mengkhianati perasaan ini. Akan tetapi, aku harus pulang.
“Aku….” Kalimatku menggantung. Dodi langsung menarik tangan kananku.
Aku mencoba melepaskan tanganku, tapi aku kesulitan karena genggamannya terasa kuat.
“Dodi, lepaskan!” teriakku.
“Sudahlah, Heni. Tidak usah malu-malu padaku. Aku serius sayang kamu, kamu juga kan? Jadi, pulang saja bersamaku.” Terangnya panjang lebar.
“Lepaskan!” ucapku tegas.
Dia segera melepaskan genggamannya.
“Maaf, lebih baik aku jalan kaki daripada pulang bersamamu dengan ajakan paksa seperti ini. Aku menghormatimu hanya sebagai teman. Besok kita sudah masuk menjadi siswa kelas 3 SMA, lebih baik kita memikirkan sekolah kita saja. Maafkan aku….” Jawabku dengan panjang lebar pula dengan tegas.
“Dia akan pulang bersamaku. Tenang saja.” Suara yang tak asing itu terdengar dari belakangku.
Aku segera memalingkan badanku ke sumber suara tadi.
“Mas Roni?” ucapku dengan mulut ternganga lebar seakan tidak percaya akan kehadirannya di depan mataku.
Dia menghampiriku dan berucap salam pada Dodi. Mereka berjabat tangan lalu Roni berpamitan, “Permisi.”
“Ayo kita pulang, Heni.” Roni mengajakku. Seperti biasa dia masih tetap saja acuh padaku, dia berjalan sendiri di depan dan membiarkan aku berjalan mengikutinya. Kata demi kata telah terucap, hati ini semakin berdebar. Mungkin memang belum saatnya untuk memadukan cinta diantara kami.
Hanya saja, aku merasa bosan dan jengkel dengan sikapnya yang seperti itu. Cinta di batas waktu yang memisahkan rasa cinta diantara kami. Akan tetapi, rasa cinta kepada Tuhan tetaplah ada. Hanya kepada-Nya semua akan kembali. Perjalana menuju rumahku bersamanya terasa sunyi. Sesampainya di rumah, ia langsung menemui kedua orang tuaku. Aku masih duduk di teras berharap ia menyapaku sebelum ia pulang. Beberapa saat kemudian, ia keluar dan melihatku. Ia tersenyum dan menyerahkan bingkisan kotak kecil sambil berucap, “Maaf, kemarin di telepon”.
“Iya Mas, tidak apa-apa. Apa ini? Terima kasih ya. Mas Roni, ini oleh-oleh untuk kamu, Ayah, dan Ibu.” Jawabku.
“Terima kasih.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.
Aku pun hanya bisa berdoa akan cinta yang ada di hatiku. Harapan di tahun yang akan datang semoga cinta bisa berlabuh. Hanya doa dan doa kepada-Nya. Seiring berlalunya waktu, hati ini terasa sangat merindukannya.


Semarang, 10 September 2011
Silvia Dyah Puspita Sari

PENGUNJUNG

BTemplates.com

Categories

Powered by Blogger.

Senyum Salam Sapa

Selamat datang di Blog saya...

GANBATTE

GANBATTE

PROFILKU

My photo
Pati, Jawa Tengah, Indonesia
Saya itu hanya orang biasa yang berusaha untuk menjadi luar biasa. Keinginan dan kepercayaan yang kuat bisa menjadi motivasi saya untuk terus bergerak. Saya lebih suka sesuatu yang apa adanya, tak perlu dibuat-buat. Santai saja dan semangat tentunya.

Followers

Search This Blog

Popular Posts