Friday, 18 November 2011

Kemah Pramuka Bakti Merapi
oleh : Silvia Dyah Puspita Sari

Kemah Pramuka Bakti Merapi (KPBM) 2011 diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pramuka Racana Wijaya Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 3-5 Juni 2011 di Desa Kalibening Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Peserta KPBM berjumlah 130 mahasiswa dari semua Fakultas di Unnes, dibagi menjadi beberapa tim. Salah satunya adalah tim Psiko Edukatif, merupakan mahasiswa dari berbagai jurusan di Fakultas Ilmu Pendidikan.
KPBM yang memiliki motto “tiga hari dua malam satu hati untuk Merapi” ini dibuka langsung oleh Rektor Unnes, Sudijono Sastroatmodjo pada hari Jumat (3/6) dengan ditandai pemukulan kentongan saat upacara pembukaan. Setelah upacara selesai, dilanjutkan penanaman pohon oleh Rektor. Bibit pohon yang dipilih untuk penanaman dalam rangka konservasi adalah bibit pohon sengon dan bibit jabon yaitu jati kebon. “Buah tidak bisa tahan lama, tanaman bisa tahan lama,” kata Rektor saat diwawancarai siang itu.

Siangnya diadakan latihan gabungan kepada siswa SD setempat. Sorenya, mahasiswa dari tim tonnis membuat pembuatan lapangan tonnis yang bertujuan agar masyarakat bisa ikut menikmati permainan tonnis, salah satu permainan baru yang diciptakan oleh Unnes. Harapannya melalui tonnis dapat membuat anak-anak dan warga riang. Trauma pasca erupsi yang dialami oleh anak-anak dan warga tak mungkin bisa langsung hilang begitu saja. Akan tetapi, hal tersebut bisa diupayakan dengan mengalihkan perhatian mereka pada hal lain yang sekiranya lebih bermanfaat. Salah satunya dengan permainan tonnis bisa sebagai sarana untuk mengalihkan perhatian.
Malam harinya, diadakan kediatan Psiko Edukatif kepada masyarakat. Melalui permainan, pelatihan dan kegiatan bertujuan untuk mengembalikan motivasi masyarakat. Rasa percaya diri juga diharapkan bisa kembali pada diri setiap warga yang pernah mengalami situasi saat meletusnya Gunung Merapi yang tak jauh dari lokasi.
Pada hari kedua (4/6), dilaksanakan Psiko Edukatif di TK Kanisius, SD Kanisius, dan MI Muhammadiyah di Kecamatan Dukun untuk menumbuhkan motivasi dan percaya diri. Pada kegiatan Psiko Edukatif di SD Kanisius, setelah kegiatan di kelas dilanjutkan permainan di lapangan diantaranya permainan Bola Telur Naga, Pinhol, Crazy Balls, dan Water Volly. Pada waktu yang bersamaan juga diadakan Pemberdayaan taman bacaan dan permainan tonnis di lingkungan desa Kalibening. Siangnya diadakan kegiatan Trauma Healing bagi guru-guru SD/MI di Ruangan kelas MTs Muhammadiyah Kecamatan Dukun. Malam harinya diadakan pentas seni yang melibatkan warga dengan tujuan untuk mengakrabkan diri.

Pada hari ketiga (5/6) yang merupakan hari terakhir KPBM, peserta bersama warga melaksanakan kegiatan konservasi berupa penanaman pohon dan bakti lingkungan di desa tersebut secara. Peserta KPBM melakukan bersih jalan dan rerumputan yang mengotori lingkungan. Pada saat yang bersamaan juga diadakan lomba pesta siaga di lingkungan perkemahan. Setelah istirahat sejenak, akhirnya KPBM ditutup pada siang itu melalui upacara penutupan yang ditandai dengan pemukulan kentongan.



Semarang, 6 Juni 2011, 17:17 WIB
Silvia Dyah Puspita Sari
Pengejawantahan Nilai Pancasila

Pancasila merupakan suatu yang patut dilestarikan walaupun mata kuliah Pancasila sudah tidak diajarkan. Pada kehidupan sehari-hari, kita sebagai generasi penerus bangsa perlu sesekali berkontemplasi akan arti pentingnya pancasila dalam kehidupan ini. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat kita aktualisasikan dalam dunia nyata yang masih membutuhkan sentuhan tangan kita.
Tentunya pancasila penting untuk menjadikan kita sebagai bangsa yang berdedikasi tinggi dengan adanya nilai dan moral yang sesuai dengan pancasila. Kelima sila yang terkandung di dalamnya mempunyai makna yang dalam apabila kita berupaya untuk mencermati secara mendalam.
Di samping itu, kita perlu melatih diri agar tetap bisa mengejawantahkan nilai-nilai yang terkandung tersebut. Hal tersebut akan menjadi pondasi dalam bersikap dan berbuat.

Semarang, 25 Mei 2011, 12:05 WIB
Silvia Dyah Puspita Sari
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Semarang

Thursday, 17 November 2011

Angggunnya Jilbabmu
oleh : Silvia Dyah Puspita Sari

Pesona indah paras seorang wanita. Makhluk Allah SWT yang diberikan sifat keibuan, kelembutan di sunia yang fana ini. Kecantikan yang dimiliki mengundang minat sesama untuk saling memandang. Betapa nikmat dunia dengan adanya wanita-wanita. Kecantikan itu akan lebih sempurna dalam Islam dengan dipakaikannya jilbab yang akan menutupi rambut wanita. Karena rambut wanita seakan mahkota bagi mereka. Sosok wanita di dunia ini bermacam-macam adanya. Tak jarang ditemukan wanita tapi tak seperti wanita karena sifatnya yang terlihat tomboi, hampir berperilaku dan berpenampilan seperti laki-laki. Bahkan, ada juga yang memang ingin bergaul dengan nyaman laki-laki sampai-sampai bertindak seakan dia laki-laki.
Oleh karena itu, ada beberapa pihak yang mulai membuka diri untuk merubah penampilannya. Tak sedikit mulai mengenakan jilbab. Mereka terlihat lebih anggun ketika memakai jilbab yang menutupi rambutnya. Terasa terpancarkan pesona kewanitaannya. Masih banyak hal yang terlihat dari berbagai wanita. Hal itu pula yang menjadikan wanita yang berjilbab terasa beda dari wanita-wanita yang lain. Aura yang mereka miliki lebih mengena dalam pandangan bagi siapapun yang memandang saat itu juga.
Di dalam kehidupan sehari-hari, jilbab begitu banyak diminati khalayak ramai, salah satu motif untuk merubah diri menjadi lebih baik. Tak heran jika banyak yang memburu meskipun banyak perbedaan tujuan dari berjilaba. Banyak wanita yang menyampaikan bahwa dengan berjilbab membuat mereka lebih anggun dan terasa terlindungi. Hal itu dikarenakan adnya perbedaan perlakuan dari laki-laki yang usil dan iseng di jalan. Kebanyakan dari laki-laki yang usil terkesan lebih menghormati wanita yang berjilbab daripada yang berpakaian seksi dan tanpa berjilbab. Mereka yang berjilbab diganggu dengan ucapan salam, sedangkan mereka ynag tidak berjilbab diganggu dengan godaan kata-kata dan siulan. Perbedaan perlakuan itu dirasakan oleh wanita. Dengan berjilbab, mereka merasa lebih terlindungi dari kejadian yang tentunya tak diinginkanya.
Wanita yang berjilbab tentunya wanita yang mengerti tentang islam karena perintah untuk berjilbab juga dijelaskan di dalam Al Quran. Wanita akan berusaha menjaga diri dalam bersikap terlebih mereka yang berjilbab, seolah jilbab sebagai kontrol mereka dalam berbuat sesuatu. Jilbablah yang membuat mereka terlihat menjadi sosok yang anggun dengan mengenakan jilbab itu. Segala sikap yang hendak dilakukan pasti dipikirkan terlebih dahulu. Keanggunan wanita berjilbab seperti menjadi tolak ukur dalam segala tindakan. Mereka menjaga diri dengan hal-hal yang kurang berkenan.
Senantiasa wanita bangga dengan jilbabnya. Jilbab tak hanya berfungsi sebagai penutup kepala saat panas, jilbab tak hanya digunakan sebagai ajang fashion, jilbab tak hanya untuk mengikuti zaman, tapi lebih kepada keistimewaan jilbab untuk keanggunan seorang wanita yang berjilbab. Akhlak dan perbuatan bisa tercermin dari jilbab yang dia kenakan. Karena, dengan jilbablah mereka bisa mengontrol diri dalam berbuat sesuatu. Fungsi kontrol itulah yang acapkali menjadi titik temu dari sekian banyak perdebatan yang ada. Oleh karena itu, kontrol dari masing-masing wanita sangat diperlukan. Tentunya dengan berjilbab.
Kejadian seperti itu akan tampak di dalam kehidupan sehari-hari. Wanita dan jilbab. Adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Kontras. Keanggunan wanita itulah yang selalu ada dalam pancaran wajah dan penampilannya. Satu hal yang pasti ialah wanita akan terlihat anggun jikalau ia berjilbab. Tak hanya berjilbab secara lahiriah, tetapi berjilbab secara batiniah. Mereka bisa menjilbabi hati mereka. Anggunnya jilbabmu wahai wanita. Tegakkan citra wanita islam dengan santun perilakumu.


Semarang, 2 Mei 2011
Silvia Dyah Puspita sari
Cinta di Batas Waktu

Hidup berteman sepi dan harapan. Aku tahu bahwa Tuhan selalu bersamaku dalam setiap suka maupun duka. Ketika sujud aku bisa melepas rinduku. Aku pun sempat mengeluh akan cintaku yang hanya bisa di batas waktu. Bulan kesebelas yang penuh debaran. Perjalanan pulang dari Bali, aku menikmati indahnya pemandangan dan merasakan desiran angin di pagi hari. Indahnya alam ini menjadikan rinduku semakin berpaut karena rasa cinta ini hanya di batas waktu. Kau di sana, sedangkan aku di sini berteman sepi.
HP-ku berdering. Nama yang tak asing di hatiku.
“Halo,” kataku seketika saat menjawab panggilan di HP-ku.
“Kamu sudah pulang ya, Heni?” tanyanya padaku.
“Iya, Roni.” Aku hanya menjawab singkat sambil memanyunkan bibirku.
Kami bercakap-cakap tak sebentar, tapi aku hanya singkat dalam berkata. Merasa bosan dengan keadaan diantara kami. Selama liburan di Bali aku ingin merasakan keceriaan sebelum aku memasuki ruangan kelas yang baru, yaitu kelas 3 SMA. Keinginanku kacau karena gossip yang tak jelas tentang seseorang yang aku cintai. Keluargaku dan keluarga Roni telah menjodohkan kami.
“Huh! Kenapa harus dengan kamu sih Mas?” ucapku berontak karena ingat sikapnya yang selalu acuh padaku.
“Maafkan aku….” Jawabnya selalu begitu.
Aku pun menutup teleponnya. Air mataku menetes. Keceriaan yang aku dapatkan hanya beberapa saat setelah kesepakatan diantara keluarga kami.
“Aku masih duduk di kelas 2 SMA, tetapi dia sudah kuliah dan sudah tingkat dua. Apakah aku bisa percaya pada cintanya?” ucapku tiba-tiba dengan nada sesenggukan.
Teman di sebelahku menepuk-nepuk pundakku.
“Sabar ya, Heni?” kata temanku menenangkan suasana hatiku.
Aku kembali dalam lamunanku. Jarak diantara kami begitu jauh. Semula aku merasakan hal yang biasa saja dengan dirinya. Akan tetapi, lambat laun perasaan cinta ini mulai tumbuh di hati. Hanya saja, sesuai keyakinanku, kami tak pernah pergi berdua, kami tetap menjaga diri. Awalnya dia sering main ke rumahku setiap kali dia pulang ke rumah. Akan tetapi, sudah dua bulan ini dia tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Hatiku mulai resah dibuatnya. Aku tetap berpikir dalam diamku di dalam bus pariwisata ini. Perjalanan yang cukup lama dan membosankan karena teringat dirinya. Roni. Satu nama yang telah berhasil mengusik hati.
“Hai Heni, belum tidur? Perjalanan masih lama.” Kata seorang teman laki-laki yang seketika itu berdiri di sebelah kursiku.
“Belum, Dodi. Aku bingung, besok orang tuaku tidak bisa menjemputku di sekolah. Aku tidak tahu akan pulang naik apa.” Jawabku dengan raut wajah memelas.
“Wah, kasihan sekali gadisku sayang….” Celetuknya membuat risih telingaku karena dia memanggilku seperti itu.
Aku langsung memalingkan wajah berpura-pura tidak mendengar.
“Hen, maaf maaf, bagaimana kalau besok aku yang akan mengantarkanmu pulang? Aku tidak tega membiarkan gadis yang aku sayangi jalan sendirian.” Jawabku sambil melihat tajam ke arah kedua bola mataku.
Tatapannya membuat dadaku berdebar kencang tak karuan. Kata-katanya membuat hatiku luluh dan aku pun mengiyakan ajakannya. Dia kembali ke tempat duduknya yang tak jauh dari kursiku dengan senyuman penuh kemenangan.
Aku tak terasa mulai terlelap dalam tidur di atas kursi yang sedikit aku sandarkan ke belakang. Beberapa waktu berlalu, bus sudah sampai di kota Atlas dan memasuki halaman sekolah. Aku dan teman-teman turun dari bus masing-masing dan mengambil barang di bagasi.
Pagi yang terasa sunyi. Sambil membawa tas punggung dan koper yang tak ringan itu aku mencoba melangkahkan kakiku. Hati ini merindukannya, seseorang yang telah menggetarkan hatiku. Detak jantungnya terasa dekat dalam debaran hatiku di kala aku merasa batin ini terselimuti oleh rasa rindu yang mencekam jiwa. Diantara keramaian dan sunyinya hati, aku menerima SMS darinya, mengabarkan kedatangannya, “Aku datang. Tunggu ya.” Kata yang aku terima. Harapan ini muncul kembali setelah tak melihatnya selama dua bulan.
“Roni akan datang? Tapi kapan? Aku benci menunggu terlalu lama.” Ucapku pada diri sendiri dengan meremas-remas genggaman tangan.
Beberapa saat kemudian, ada suara yang memanggilku dari belakang, “Heni!”
Aku menoleh, tentunya tak lain adalah Dodi, teman sekelas yang sudah lama bilang suka padaku, tetapi aku tak mau berpacaran, karena itu bukan diriku. Aku masih berdiri dengan hati yang berdebar menunggu saat-saat Roni berkunjung ke rumahku lagi. Dalam hati aku berucap, “Seandainya saja Mas Roni yang mengajakku, menjemputku, dia yang ada di depanku, bukan Dodi.”
“Heni, jadi pulang bersamaku kan?” Tanya Dodi dengan semangat.
Aku masih terdiam. Aku tak ingin mengkhianati perasaan ini. Akan tetapi, aku harus pulang.
“Aku….” Kalimatku menggantung. Dodi langsung menarik tangan kananku.
Aku mencoba melepaskan tanganku, tapi aku kesulitan karena genggamannya terasa kuat.
“Dodi, lepaskan!” teriakku.
“Sudahlah, Heni. Tidak usah malu-malu padaku. Aku serius sayang kamu, kamu juga kan? Jadi, pulang saja bersamaku.” Terangnya panjang lebar.
“Lepaskan!” ucapku tegas.
Dia segera melepaskan genggamannya.
“Maaf, lebih baik aku jalan kaki daripada pulang bersamamu dengan ajakan paksa seperti ini. Aku menghormatimu hanya sebagai teman. Besok kita sudah masuk menjadi siswa kelas 3 SMA, lebih baik kita memikirkan sekolah kita saja. Maafkan aku….” Jawabku dengan panjang lebar pula dengan tegas.
“Dia akan pulang bersamaku. Tenang saja.” Suara yang tak asing itu terdengar dari belakangku.
Aku segera memalingkan badanku ke sumber suara tadi.
“Mas Roni?” ucapku dengan mulut ternganga lebar seakan tidak percaya akan kehadirannya di depan mataku.
Dia menghampiriku dan berucap salam pada Dodi. Mereka berjabat tangan lalu Roni berpamitan, “Permisi.”
“Ayo kita pulang, Heni.” Roni mengajakku. Seperti biasa dia masih tetap saja acuh padaku, dia berjalan sendiri di depan dan membiarkan aku berjalan mengikutinya. Kata demi kata telah terucap, hati ini semakin berdebar. Mungkin memang belum saatnya untuk memadukan cinta diantara kami.
Hanya saja, aku merasa bosan dan jengkel dengan sikapnya yang seperti itu. Cinta di batas waktu yang memisahkan rasa cinta diantara kami. Akan tetapi, rasa cinta kepada Tuhan tetaplah ada. Hanya kepada-Nya semua akan kembali. Perjalana menuju rumahku bersamanya terasa sunyi. Sesampainya di rumah, ia langsung menemui kedua orang tuaku. Aku masih duduk di teras berharap ia menyapaku sebelum ia pulang. Beberapa saat kemudian, ia keluar dan melihatku. Ia tersenyum dan menyerahkan bingkisan kotak kecil sambil berucap, “Maaf, kemarin di telepon”.
“Iya Mas, tidak apa-apa. Apa ini? Terima kasih ya. Mas Roni, ini oleh-oleh untuk kamu, Ayah, dan Ibu.” Jawabku.
“Terima kasih.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.
Aku pun hanya bisa berdoa akan cinta yang ada di hatiku. Harapan di tahun yang akan datang semoga cinta bisa berlabuh. Hanya doa dan doa kepada-Nya. Seiring berlalunya waktu, hati ini terasa sangat merindukannya.


Semarang, 10 September 2011
Silvia Dyah Puspita Sari

Thursday, 23 June 2011

Mengakui Eksistensi Guru

oleh Silvia Dyah Puspita Sari


Menjadi guru bukanlah suatu hal yang memalukan. Hanya saja bagi mereka yang lebih menginginkan eksistensi diri, hal tersebut bisa menjadi permasalahan tersendiri. Dalam benak mereka tak terpikirkan mengenai keadaan pendidikan di pelosok daerah. Lingkungan yang begitu membutuhkan pendidikan yang berkualitas.

Mereka tak berminat menjadi guru hanya karena malu. Profesi sebagai “seorang tanpa tanda jasa”. Itu yang kerap terlontar oleh mereka tanpa menginterpretasikan maksud dari setiap kata yang didapat. Masalah malu menjadi guru tak perlu dipersoalkan. Hanya jiwa sosok guru ataupun calon guru yang profesional yang mampu menangkis perasaan itu.

Bahkan kalau kita tilik lebih dalam, menjadi guru malah akan menjadi proses eksis bagi kita, generasi penerus bangsa. Jadi, tak perlu malu. Dengan menjadi guru, kita bisa memperbaiki sistem pendidikan yang ada dan melakukan inovasi dalam pembelajaran. Masalah gaji pun tak perlu jadi bahan pikiran. Tentunya kalau kita benar-benar menjalankan profesi guru sebaik mungkin. Tak akan kekurangan. Apalagi dengan adanya sertifikasi guru. Hal itu bisa menjadi motivator tersendiri. Akan tetapi, jangan menyalahartikan gaji yang didapat dari sertifikasi. Gaji itu untuk perbaikan pendidikan, bukan perbaikan kekayaan. Insya Allah masalah kehidupan akan ada gantinya apabila kita tetap menekuni profesi kita yang sedang kita jalani.

Selamat berjuang tuk gapai impian. Mari kita, mahasiswa UNNES jurusan PGSD, mengakui eksistensi diri kita. Asal kita yakin bisa pasti bisa. Sebagai calon generasi pendidik, mari kita ciptakan pendidikan yang berkualitas. PGSD? Jaya!



Ditulis di kamar kos saat terdiam penuh harap dan rindu yang semakin berpaut padanya. Ngaliyan Semarang, 24 Mei 2011, 23:42 WIB.

Thursday, 12 May 2011

Perjalanan panjang. Seperti biasa. Hari Rabu adalah hari yang panjang bagiku. Jadwal kuliah padat dari mentari menjelang sampai mentari hendak menuju ke peraduannya. Sorenya mengisi mentoring untuk kelompok adik-adik Tutorial PAI. Malamnya ngajar ngaji. Setelah itu, ada pembelajaran yang sangat berharga dari hasil ketemuan dengan Kak Nur, salah satu teman atau sesepuh di Pramuka, pembina yang membuatku kagum dengan untaian kata-kata motivasinya. Begitu dalam.
Hidup hari ini. Sebagi pembelajaran saja. Mengingat, mengerti, memahami, proses menuju hal yang diinginkan. Aku teringat sosok yang membuatku berdecak kagum dan menginspirasiku dalam pembelajaran kegidupan. Setelah mengenalnya, aku mengetahui akan perlunya kesabaran dalam hidup. Iya. Sabar.
Up Grading Wilayah (UG Wil) untuk Pengurus FLP se-Jawa Tengah dilaksanakan di Tegal. Tepatnya di Hotel Kencana. Hari ini adalah hari kedua UG Wil. Materi dilanjutkan dengan Talkshow Kepenulisan yang awalanya direncanakan di Pendopo kemudian pindah di Gedung Wanita.
Selesai acara, foto bareng dan tanda tangan. Tak terduga.

Monday, 9 May 2011


“Jalan meraih mimpi memang tidak pernah mudah. Akan selalu ada onak dan duri yang menghalangi. Namun semangat, harapan, kerja keras, dan doa akan bisa mengatasi itu semua. Buku ini menulis tentang itu semua, sebagian ceritanya begitu menyentuh dan layak diapresiasi.”

–Habiburrahman El Shirazy
Novelis, Sarjana Al Azhar University, Cairo, Mesir
Penulis Novel Fenomenal Ayat Ayat Cinta–



TENTANG BUKU
Judul : Sekolah Kolong Langit
Edisi/cetakan : I / Cetakan 1, Maret 2011
Tebal : 224+xii halaman
Penerbit : pm-publisher Semarang
Harga : Rp 30.000,00

Sudah ber-ISBN

Kata Pengantar : Afifah Afra (Novelis – Ketua FLP Jawa Tengah)

Endorsment:

Habiburrahman El Shirazy (Novelis, Sarjana Al Azhar University, Cairo, Mesir. Penulis Novel Fenomenal Ayat Ayat Cinta),

Wardjito Soeharso (Pengelola penullismuda.com),

Sulaiman AlKumayi (Penulis Best Seller Kecerdasan 99 – Direktur Insisma),

Rianna Wati (Dosen Sastra UNS),

Muhammad Ali (Wartawan Suara Merdeka),

dan Agus M Irkham (Penikmat Cerpen).

Sekolah Kolong Langit…

Kumpulan Cerpen Inspiratif dan Penuh Pencerahan

Dari 23 penulis muda Indonesia

Oliphia Olive, Nurfita Kusuma Dewi, Syah Azis Nangin, Agus Qoribul Akhwan, Silvia Dyah Puspita Sari, Alvi Darojaturrois, Azhifah Zafitri, Edy Arif Tirtana, Muhammad Khoirul Anam, Eva Nuriatul Fajr, Mulipah, Raddy Wicaks al-Jihadi, Rizal Mubit, Hanifah Dian, Fajriatul Mubarokah, Adi Seno, Ahmad Khairul Anam el-Mughnie, Na’imah Awan Nur, Rofiq Hidayat, Nur Ariyanto, Winas Nazula Fajrin Maulia, R Fahra Nisa, Ali Margosim Chaniago



Oh iya, ada lima penulis muda yang merupakan mahasiswa UNNES jurusan PGSD lho…

Bagi yang berminat bisa menghubungi 081325184154 (a.n. Silvia)



Mari terapkan budaya baca, lalu kita MENULIS sekarang juga.

Salam dahsyat dan sukses selalu! ^_^

_Silvia Dyah Puspita Sari



Semarang, 6 Mei 2011, 21:45

Saturday, 7 May 2011

Perjalanan ke Tegal akan dimulai hari ini. Selamat berjuang. Semoga sukses gapai impian! Salam dahsyat tulisan master peradaban!

Friday, 6 May 2011

Pagi yang lumayan cerah. Saya; Silvia dan kelima teman saya; Novita, Susiana, Riana, Sikum, dan Nanang pergi ke SD Tambak Aji 04, Ngaliyan, Semarang. Kami bermaksud untuk observasi sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Pengembangan Pembelajaran IPS SD. Kami terbagi menjadi 3 sepeda motor, berboncengan. Saya bersama Novita.

Sesampainya di SD tersebut kami disambut dengan ramah oleh kepala sekolah; Sunarto,S.Pd dengan ramah. Kami dipersilahkan memasuki ruangan kepala sekolah. Setelah berbincang-bincang tak terlalu lama, guru kelas IV-A memasuki ruangan dan bertutur kata kepada kami. Beliau terlihat ramah dan tegas. Mendengar bel masuk telah dibunyikan, kami dipersilahkan untuk memasuki ruang kelas IV-A.

Saya dan kelima teman saya dipersilahkan duduk di belakang, di deretan bangku yang telah ditata dengan rapi. Pembelajaran IPS dimulai. Ruang kelas dan siswa telah dikondisikan dengan baik. Pembelajaran dilakukan berkelompok dengan metode diskusi yang di dalamnya ada presentasi oleh masing-masing kelompok.

Thursday, 5 May 2011

"Cinta itu menyembuhkan, bukan menyakiti"
Aku pernah mendengar kata-kata itu. Menyejukkan. Aku setuju. Bila cinta harus saling menjaga, menerima dan memberi. Cinta apa adanya. Cinta setelah ada perubahan hanyalah perjanjian, itu bukan cinta yang sesungguhnya. Kalau cinta hendak di kata. Kenapa harus diam. Apa benar cinta tak perlu kata, cinta hanya untuk dirasa? Aneh memang kalau sudah berbicara masalah cinta. Kadang logika pun tak mampu menjawabnya. Hanya rasa yang mampu berbicara. Lantas, apa yang dipermasalahkan dalam cinta? Satu hal yang perlu dipertanyakan, perhatian. Cinta butuh perhatian akan rasa sayang. Tulus tanpa dibuat-buat. Perhatian yang akan tetap dalam penantian. Perhatian sesaat, setiap waktu, atau perhatiaan jika ada mau. Entahlah. Hanya sang pembelajar cinta yang mampu menjawab akan rasa itu. Sulitnya kalau hati telah berpaut. Bertahan penuh tanya. Lepas pun sulit terasa. Mengambang diantara keduanya bagai hidup di tengah-tengah samudra. Hanya waktu akan mampu tuk membaca semua rangkaian peristiwa.

5 Mei 2011, 10:04
Silvia Dyah Puspita Sari

Wednesday, 4 May 2011

Penantian yang tiba-tiba. Menanti sosok yang ditunggu tuk berbagi ilmu. Dalam keramaian terkadang hati pun merasa sunyi. Terkikis oleh hempasan tawa dan canda. Tetap menanti sambil mengerjakan sesuatu yang lain. Serangkaian peristiwa dalam hidup menjadi mahasiswa semuuanya terbayang. Campur aduk. Itu yang dapat dirasakan. Akan tetapi, gundah hati acapkali terasa. Oleh karena itu, kuat rasa untuk berusaha haruslah tetap ada. Mengerti akan pahitnya kehidupan, suatu saat akan datanag manis yang didapat. Riang. Damai akan dirasa. Semangat harus tetap berkobar tuk gapai impian walaupun terkadang penuh tanya. Semoga selalu ada harapan. Gapailah seberkas cahaya. Alhamdulillah tiba-tiba ada pengumuman yang menggembirakan. Penugasan tuk dapatkan ilmu yang lebih mendalam. Beribu syukur terucap perlahan.

Tuesday, 3 May 2011

Kontemplasi Mahasiswa
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari

Dewasa ini minat mahasiswa untuk melakukan penelitian begitu rendah. Mereka cenderung hidup dalam budaya baru, semakin mengikuti arus globalisasi. Tanpa berpikir panjang dan hanya sekadar mengikuti. Di sisi lain, mereka mengesampingkan penelitian yang seharusnya bisa dilakukan. Tak banyak yang berminat melakukan penelitian karena kemalasan. Rasa malas itu perlu dijadikan suatu proses kontemplasi sehingga mereka memahami betapa pentingnya penelitian. Selain itu, bagi mereka kegiatan tersebut hanya membuang-buang waktu. Penelitian hanya pantas dilakukan bagi yang mempunyai rasa ingin tahu begitu besar. Malas untuk meneliti sesuatu yang sudah ada. Alasan seperti itu acapkali terdengar di telinga. Bahkan banyak yang lebih memilih profesi lain yang dianggapnya lebih menjanjikan.
Hal demikian seharusnya menjadi tanda tanya besar di kepala kita sebagai mahasiswa. Padahal, kalau kita menilik Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satu kewajiban mahasiswa adalah melakukan penelitian. Oleh karena itu, penelitian merupakan aktivitas yang selayaknya dilakukan oleh mahasiswa. Kontemplasi begitu diperlukan oleh mahasiswa mengenai fakta semacam ini. Mereka yang malas melakukan penelitian adalah orang yang benar-benar malas ataukah karena mereka tidak tahu konsep penelitian itu sendiri. Tidak sedikit orang yang menggunakan alasan malas dalam belajar karena sesungguhnya mereka belum mempunyai ilmu tentang hal tersebut.

Monday, 2 May 2011

Selamat Hari Pendidikan Nasional...

Bagi anak-anak calon penerus bangsa, mahasiswa calon guru, para guru, mari perjuangkan pendidikan generasi sang pembelajar. Permudahkanlah sistem pendidikan di Indonesia. Hidup dalam kemandirian dan penuh dengan tanggungjawab. Semangat mendidik dan mencetak kader-kader pejuang dalam dunia pendidikan. Semangat menggapai ilmu dimana pun berada.
Suasana yang begitu lain dari biasanya. Terasa sepi menyelimuti diri. Tangan ini bergerak memainkan keyboard. Hari yang beda. Itulah yang ada dalam benakku. Sepi. Tapi aku hanya ingin merasakan damai. Pagi ini aku tak tahu akan hari ini. Bayang melayang entah kemana. Jauh arah melintang. Tak terasa batin pun ikut bertanya diam.

Mentari mulai menampakkan diri. Menyelesaikan sesuatu yang sempat tertunda. Tugas. Ya, tentunya itu, apalagi kalau tidak itu. Teruslah berjuang gapai impian. Inilah jalan hidup.

Aku terus jalani hariku. Matahari mulai meninggi, terdengar suara Handphone berdering. SMS dari Ketua FLP Pati. Alhamdulillah... Aku tak menyangka sebelumnya. Aku diminta untuk mengikuti acara Up Grading FLP Se-Jateng yang insya Allah akan dilaksanakan tanggal 7-8 Mei 2011 di Tegal. Bagaimana ya? Aku ingin ikut. Hanya saja, aku harus izin orang tua terlebih dahulu. Tentunya aku berharap agar diizinkan, ini adalah peluang. Semenjak beberapa hari yang lalu, semangat ini semakin menyelimuti diri. Semangat! ^_^ Be a writer.

Sunday, 1 May 2011

Shalawat dan Berdzikir untukmu, Semarang
oleh : Silvia Dyah Puspita Sari




Memperingati hari jadi Kota Semarang yang ke-464, pada hari Jumat (29/4) diadakan Tabligh Akbar di Balaikota Semarang. Ribuan orang dari berbagai penjuru menghadiri acara itu. Semangat jamaah Tabligh Akbar begitu tinggi. Tua muda, putra putri dari berbagai daerah ikut menyemarakkan acara itu. Sekitar jam 8 halaman Balaikota sudah sudah sarat oleh pendatang yang termasuk dalam banyak rombongan besar walaupun kondisi sedang hujan lebat. Hujan berhenti perlahan. Banyak bendera dari rombongan yang dikibarkan sampai-sampai pihak keamanan turun tangan untuk mengkondisikan. Tak hanya itu, jamaah berebut di posisi depan yang menjadikan adu mulut antar jamaah.
Tak terasa sejam berlalu begitu cepat, hujan masih turun. Sekitar jam 9 acara dibuka. Suara jamaah begitu menggelegar mendapati sosok yang ditunggu-tunggu, Habib Syekh. Dipimpin oleh Habib Syekh, jamaah melantunkan shalawat dan dzikir. Semangat peserta tetap membara walaupun berada di bawah rintikan air hujan. Itu karena lokasi di halaman terbuka. Jadi, semua yang ada di sana sama-sama merasakan nikmatnya air hujan sambil terus bershalawat. Setelah itu, dilanjutkan tausiyah oleh Habib Syekh, juga terlihat dan terdengar suara merdu dari Ustadz Jefri Al Bukhori yang menyempatkan hadir.

Semarang, 1 Mei 2011, 20:57
Kekuatan Impian
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari


Setiap orang pasti punya impian. Termasuk saya. Akan tetapi, tidak semua impian dapat tercapai. Adakalanya sesuatu yang kita inginkan tidak kita dapatkan, tetapi tanpa kita sadari kita telah mendapatkan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan. Saya hanyalah orang biasa yang penuh dengan impian. Saya sangat tertarik dengan dunia kepenulisan dan karang mengarang sejak menjadi siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Pati. Saat penjurusan, Alhamdulillah saya diterima di jurusan IPA yang menjadi impian bagi orangtua pada umumnya, tetapi bagi saya tidak. Saya lebih memilih jurusan BAHASA. Itu karena rasa cinta dan minat saya yang besar pada sastra dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Pilihan itu ditentang oleh ayah saya. Akan tetapi, lambat laun beliau mengerti. Impian saya serasa nyata. Saya bisa bergeliat dengan sastra, apalagi ketika kelas II saya bertemu dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang sangat asyik dan memotivasi saya untuk terus menulis. Saya banyak belajar puisi dari Pak Harianto, sedangkan Pak Bambang mengajarkan cerpen.
Sedikit demi sedikit saya berusaha mewujudkan impian saya. Mulai dari mengisi Mading Sekolah, mengisi berita di website Sekolah karena saya diberi amanah dalam Mading Bahasa Indonesia di OSIS 2006-2007. Selain itu, saya juga mengisi beberapa rubrik di Buletin Rohis di SMA 1 Pati. Akan tetapi, semua impian itu seperti sirna di telan bumi ketika dimulainya pendaftaran di perguruan tinggi. Berdasarkan pemikiran orangtua, saya diminta kuliah di UNNES, jurusan PGSD. Awalnya merasa berat hati. Lambat laun saya mencoba mengikhlaskan hati. Saya pun mulai memantapkan hati semenjak hari pertama mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Unnes (SPMU). Alhamdulillah saya diterima setelah melewati tes tertulis dan wawancara. Tak kuduga sebelumnya.
Perlahan saya mulai membangun impian saya lagi. Menulis tentunya. Apa saja yang bisa saya tulis, saya akan menulis, walaupun harus belajar dari awal, tak masalah. Yang penting semangat. Selalu ada kekuatan dalam menulis. Menulis untuk menggapai impian. Terlebih, sekarang guru dituntut untuk bisa menulis. Saya menjadi lebih termotivasi karena itu. It’s NOW or NEVER. Sudah saatnya kita melakukan perubahan pada diri kita. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi. Mari kita bangun negeri ini dengan berawal dari impian. Bermimpilah. Lalu, wujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Salam dahsyat untuk kita semua.

Semarang, 1 Mei 2011, 08:38
Tela Bakar Penggugah Rasa
Forum Lingkar Pena Cabang Pati
Oleh : Silvia Dyah Puspita Sari


Temu latihan membahas karya atau yang biasa dikenal dengan Tela Bakar dilaksanakan oleh FLP Pati. Seperti biasa, setiap seminggu sekali selalu berganti tempat untuk sekedar ganti suasana dan tentunya sebagai sarana bersilaturahmi karena dilakukan secara bergantian di masing-masing rumah anggota FLP Pati. Pada hari Minggu ini (24/4) jam 09:30 WIB, Tela Bakar dilaksanakan di Desa Rejo Agung, Trangkil, tepatnya di rumah saudari Puji. Pertemuan ini dihadiri oleh 12 orang anggota. Pada pekan ini, ada dua naskah yaitu Berkah Membawa Derita karya Fuzie Langiet Jie Ngga dan Pengkhianatan Emansipasi karya Arfika Putri Pertiwi. Kedua naskah tersebut dibacakan secara bergantian untuk dilanjutkan proses pembedahan.
Ketika pembedahan naskah yang dimoderatori oleh saudara Gugun, suasana terasa semakin menggugah rasa para peserta Tela Bakar. Setiap komentar begitu membangun pengetahuan, tentunya semua itu perlu menjadi bahan kontemplasi bagi semua yang hadir. Ketua FLP Pati-M.Mubarok-juga ikut berperan aktif dalam menambahkan argumen sebagai penguat pendapat-pendapat yang ada. Setiap orang punya karakter dan ciri khas yang berbeda dari yang lain. Jadi, diskusi mengalir dengan segar layaknya air mengalir di sungai. Perlahan, tetapi pasti. Saudara Muklis yang cermat dalam diksi, tak kalah untuk memberikan masukan, terutama hal yang berkaitan dengan judul. Di samping itu, saudari Silvia juga ikut berperan memberikan komentar mengenai tata bahasa tanda baca. Tak hanya itu, saudara Ulin juga ikut menambahkan sesuai ciri khasnya yaitu tentang penggunaan majas dalam suatu cerita. Peserta yang lain pun saling member masukan berkenaan tentang kesesuaian tema, alur, penokohan, dan unsur-unsur yang lain. Acara yang berakhir sampai sekitar jam 1 siang ini bisa dijadikan sebagai ajang untuk penggugah rasa, terutama rasa kita dalam kepenulisan. Kejadian kecil dalam kehidupan sehari-hari bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Oleh karena itu, mari kita menulis. Menulis untuk membangun peradaban. Kita menulis, maka kita ada. Salam dahsyat untuk kita semua.

Meniti ilmu di kota atlas, 1 Mei 2011, 07:26

Thursday, 14 April 2011

Ana dan Kucing Putih

Hiduplah seorang anak bersama ayah dan ibunya. Mereka tinggal di rumah kecil dekat sawah. Anak itu bernama Ana. Dia suka memelihara kucing. Kucing itu berwarna putih. Witi. Itulah nama kucing kesayangannya.
Setiap hari Ana memberi makan Witi. Nasi dan ikan jadi lauknya. Dia juga tidak lupa memberi air untuk minum. Pada suatu hari, Witi keluar dari rumah. Seharian tidak pulang rumah. Ana menjadi sedih dan menangis.
Ana mencari Witi di dalam rumah dan di halaman rumah. Ternyata tidak ketemu. Ia berangkat sekolah dengan sedih. Di jalan ia bertemu kucing hitam. Kucing itu berteriak minta tolong pada Ana. “Meong… meong… Tolong temanku… Meong…” kata kucing itu. Kucing itu berlari. Ana mengikuti.
Mereka berhenti di taman. Ana melihat Witi menangis. “Meong… Ana… Meong… Ana…” kucing itu minta tolong. Ana berjalan mendekat. Dia langsung memeluk Witi. Dia mengelus-elus kepala Witi. Badan Witi luka dan berdarah.
“Kucing hitam, terima kasih ya”. Ana berkata pada kucing itu. Setelah itu berlari ke sekolah. Ana masih memeluk dan menggendong Witi. Mereka sampai di sekolah. Ana berjalan ke Ruang UKS. Dia mengambil kotak obat. Dia mengobati luka di badan Witi.
Ana memang anak yang baik hati. Dia suka menolong. Dia tidak membeda-bedakan. Dia mau menolong hewan yang terluka. Sikap Ana patut untuk ditiru.

Thursday, 17 March 2011

Cinta

Cinta…
Aku mencintaimu dengan cintaku
Apakah benar cinta tak perlu kata?
Apakah hanya untuk dirasa?
Jauh diri ini berpikir tentang dirimu
Apakah kau tahu itu?

Cinta…
Aku mencintaimu dengan cintaku
Sepanjang jalan cintaku terasa sunyi tanpa cinta kasih sucimu
Benarkah kau mencintaiku?
Sempat tanya terbersit dalam hatiku
Galau

Cinta…
Aku tahu ini adanya
Ketika bayangmu pergi menjauh
Getaran ini tetap terasa
Nan tak tentu arah di jalan cintaku
Di batas waktu pengharapanku

Cinta…
Aku mencintaimu dengan cintaku
Walau tak sepatah kata menghiasi hariku
Rasa ini tetaplah terpatri dalam diriku
Detak jantungmu terasa dekat dalam debaran hatiku

Di kamar sunyi, 17 Maret 2011 menjelang waktu isya

Tuesday, 18 January 2011

"Dunia terasa hampa tanpa hadirmu..."

Kamu tak pernah lepas dari genggaman tanganku pada hari-hari yang kulalui. Sepi yang kadang menyelimuti diri,seketika menjadi begitu ramai dan terpancarkan senyum di wajah ketika kamu sudah berteman jemari lentikku yang memejet berbagai tombol di tubuhmu dengan iringan nada yang kamu alunkan. Tentunya untuk mengirim suatu pesan entah kepada siapa yang sedang aku rindu.

Apakah kamu tahu?

Sekarang bulan penuh rahmat dan ampunan-Nya telah datang, tapi aku masih saja tetap bersamamu, tak bisalepas. Seminggu selama Ramadhan ini telah berlalu, belum tampak perubahan.

Aku bingung. Kenapa aku begitu memujamu? Kamu yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat komunikasi telah aku salah artikan. Layaknya teman hidup, hadirmu sangat berarti dalamsepiku.

Pagi ini tampak murung karena mentari tak terlihat, tapi aku sangat bersyukur. Dengan cuaca yang seperti ini, terasa lebih ringan menjalankan ibadah puasa. Tak sengaja saat aku berjalan melewati kamar teman sekosku, aku melihatnya sedang mengaji, dia sudah sampai juz 10, sedangkan aku? Sebagian dari itu belum ada.

Aku mulai berpikir untuk kali pertama dalam ramadhan ini. Kesadaran timbul perlahan. Betapa aku telah jauh dari-Mu hanya karena benda itu, handphone. Aku harap masih ada waktu untuk memperbaikinya.


oleh Silvia Dyah Puspita Sari pada 22 Agustus 2010 jam 16:04

Sunday, 9 January 2011

Gapailah Cinta, Cita, Impian, dan Harapan!
Salam sukses buat kita semua!
Salam DAHSYAT!
SEMANGAT PAGI! ^_^
Semoga ALLAH mempermudah setiap aktivitas kita.
Amin.

_Vhie2_

Saturday, 8 January 2011

Hari ini adalah hari yang DAHSYAT!!! Seminar tadi begitu mengena... Semoga tetap terjaga... Motivasi menulis dari seorang guru SD. Menulis puisi... Jangan ragu untuk memulai.... SEMANGAT ya Vivi.......... ^_^

PENGUNJUNG

BTemplates.com

Categories

Powered by Blogger.

Senyum Salam Sapa

Selamat datang di Blog saya...

GANBATTE

GANBATTE

PROFILKU

My photo
Pati, Jawa Tengah, Indonesia
Saya itu hanya orang biasa yang berusaha untuk menjadi luar biasa. Keinginan dan kepercayaan yang kuat bisa menjadi motivasi saya untuk terus bergerak. Saya lebih suka sesuatu yang apa adanya, tak perlu dibuat-buat. Santai saja dan semangat tentunya.

Followers

Search This Blog

Popular Posts